<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!--Generated by Squarespace Site Server v5.11.5 (http://www.squarespace.com/) on Fri, 03 Sep 2010 03:50:02 GMT--><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0"><channel><title>Nadia Febina - Indonesian Blog</title><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/</link><description></description><lastBuildDate>Wed, 31 Mar 2010 16:27:09 +0000</lastBuildDate><copyright></copyright><language>en-US</language><generator>Squarespace Site Server v5.11.5 (http://www.squarespace.com/)</generator><itunes:category text="Arts"/><item><title>Tips Bahagia Hidup di Angola</title><category>Angola</category><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Wed, 31 Mar 2010 16:06:27 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2010/3/31/tips-bahagia-hidup-di-angola.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:7187618</guid><description><![CDATA[<p><span class="full-image-float-left ssNonEditable"><span><img style="width: 150px;" src="http://nadiafebina.com/storage/dreamstime_5276584.jpg?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1270052419257" alt="" /></span></span></p>
<p><em><strong>Seperti yang ditulis di <a href="http://pralangga.org/articles/tips-mudah-hidup-di-angola">pralangga.org</a>.</strong></em></p>
<p>Setelah posting <em>menye-menye</em> sebelum ini tentang tinggalnya saya di Angola yang <a href="../../blogbahasa/2010/2/4/mengaku-saja.html">tidak akan lama lagi</a>, mungkin ada baiknya saat ini kita putar balikkan_ menye-menye_ itu dengan hal yang lebih berguna. Misalnya, hal-hal apa yang bisa kita pelajari dari budaya kawan-kawan di Angola&nbsp;sini?.</p>
<p>Hari ini saya mendapat kesempatan berbicara dengan dua orang tamu berasal dari sebuah negara di benua Eropa dan baru pertama kali mengunjungi negara ini. Setengah basi-basi, saya tanya bagaimana pesawat semalam apakah membuat mereka letih dan apakah ketika mendarat pertama kali di Angola mengalami <em>shock-shock</em> tertentu dari apa yang terlihat. Keduanya menjawab bahwa mereka expect sesuatu yang sangat parah tapi ternyata tidak seperti separah itu. <strong>&ldquo;Saya tau karena apa&rdquo;</strong>, ujar salah satu bapak itu, <strong>&ldquo;karena begitu mendarat kami disambut orang-orang yang tersenyum. Bukan senyum yang dibuat-buat tapi yang tersenyum dari matanya. It gives me warm feeling.&rdquo;</strong> Memang pendapat mereka kedengaran agak sok tahu dan berteori tapi saya akui dan saya ingat-ingat memang kayaknya itu juga yang saya rasakan ketika pertama kali menginjak negara&nbsp;ini.</p>
<p>Saat itu saya masih seorang yang bisa dibilang <em>gagap budaya</em> karena walaupun saya termasuk salah satu yang beruntung suka diajak liburan kesana-kemari dan bekerja di perusahaan multinasional, namun untuk benar-benar menetap selama di suatu negara di luar benua Asia, saat itu saya belum punya pengalaman. Untuk teman-teman yang sudah saya kenal lewat blog dari pertama kali blog ini dibuat, mungkin pada tau bahwa sebelum dikirim ke Angola, saya ditempatkan sementara selama 7 bulan di negara Inggris. Saat itu, mungkin karena suhu yang dingin dan banyak hujan, atau karena budaya individualis masyarakat sana, terus terang saya merasa kurang pas berada di situ. Karakter saya yang suka ngobrol sana-sini dan berteman dengan orang baru yang banyak, kurang pas dengan kehidupan kota London yang semuanya serba convenient sehingga interaksi dengan sesama manusia kurang begitu&nbsp;penting.</p>
<p>Saya akui saya tidak melulu menderita berada di London, karena kotanya sendiri sangatlah <em>lively</em>. Tapi terus terang saya juga akui, ada <em>something is missing</em>, ibarat makanan saat itu atmosphere berasa hambar, perlu bumbu sedikit tapi entah bumbu yang&nbsp;mana.</p>
<p>Pertama kali menginjakan kaki di bumi Angola tiga tahun lalu, saya kaget bukan kepalang dengan <a href="http://www.sleepinginairports.net/africa/luanda-airport.htm">airportnya</a> yang <strong>eng-ing-eng</strong>. Bukan petugas imigrasi yang pertama kali menyambut kita, tapi <em>sepasukan nyamuk-nyamuk yang gesit</em>. Dan siapa bilang nyamuk-nyamuk ini menyambut di gedung airportnya?. <strong>Bukan</strong>, mereka sudah menyambut di bus besar yang mengangkut penumpang dari pesawat ke gedung airport (di sini tidak ada belalai gajah). Dicampur dengan peringatan-peringatan tentang bahaya malaria yang bertipe mematikan di Angola, berdiri di bus selama 10 menit dikelilingi sepasukan nyamuk ini memang cukup membuat sport&nbsp;jantung.</p>
<p><a href="http://www.wordtravels.com/Airports/Angola/Luanda+International+Airport">Airportnya sendiri</a>, saat tiga tahun lalu masih berbentuk airport lama yang belum direnovasi sejak jaman penjajahan portugis (saat ini airport nya sudah jauh berbeda bentuknya sejak diadakan CAN2010 January lalu). Selain tidak ber-AC, dimana-mana bisa tercium semriwing bau WC karena WC nya tepat berada di depan hall imigrasi dan tercium juga bau yang lain yaitu bau: <em>ehm</em> &hellip; <strong>bawang</strong>.</p>
<p><a title="Bandara diLuanda by The Peacekeepers, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/pralangga/4478128801/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4072/4478128801_f2cda3e905_m.jpg" alt="Bandara diLuanda" width="240" height="180" /></a> <a title="Bandara diLuanda5 by The Peacekeepers, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/pralangga/4478755620/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4071/4478755620_e94c10e5f4_m.jpg" alt="Bandara diLuanda5" width="240" height="180" /></a></p>
<p><a title="Bandara diLuanda4 by The Peacekeepers, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/pralangga/4478128927/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4001/4478128927_aa4f286090_m.jpg" alt="Bandara diLuanda4" width="240" height="180" /></a> <a title="Bandara diLuanda2 by The Peacekeepers, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/pralangga/4478756100/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4029/4478756100_cc2922d1aa_m.jpg" alt="Bandara diLuanda2" width="240" height="180" /></a></p>
<p>Mungkin hasil dari tidak ada AC sehingga tumbuhlah semerbak bau bawang menusuk itu di ruangan. Petugas imigrasinya pun jauh dari ramah. Lengkaplah sudah pengalaman &ldquo;eng-ing-eng&rdquo; hari pertama&nbsp;ini.</p>
<p>Untungnya pengalaman selanjutnya yang saya temui begitu sampai di depan hotel menginap agak berbeda. Agak trauma dengan pengalaman di airport, saya yang selalu mengakunya pemberani ini jadi berjalan agak menunduk takut digongong lagi oleh pengalaman-pengalaman aneh dan orang-orang muka galak. Untungnya saya punya kebiasaan cengengesan dan masa bodoh. Disambut oleh satpam dengan muka galak, refleks saya senyum dan menyapa dengan bekal bahasa portugis pas-pasan hasil kursus selama 6 kali 1 jam di London: <strong>&ldquo;Bom Dia! Como esta?&rdquo;</strong> (Selamat pagi! Apa&nbsp;kabar?).</p>
<p>Terbiasa dengan suasana London yang kalau saya menyapa, <strong>&ldquo;Good morning everybody!&rdquo;</strong> di kantor tapi tidak ada yang menyahut, kali ini saya pun tidak mengharap sapaan balik dari bapak satpam hotel angola. Yang penting kita beramah-tamah, urusan dia gak ramah sih salah dia sendiri, iya&nbsp;nggak?.</p>
<p>Tapi siapa sangka, si bapak satpam dengan muka garang itu langsung malah langsung tersenyum lebar bar-bar-bar ala kebapakan (memang bapak-bapak sih) dan menyapa balik dengan antusias: <strong>&ldquo;Tudo bem! Eeeh, voce fala portugues? E chinesa?&rdquo;</strong> (kabar baik! Loh, situ ngomong portugis? Orang cina&nbsp;ya?).</p>
<p><em>Cina? Ya, sudahlah..</em> (Belakangan saya tahu bahwa segala bentuk muka berbau Asia, dibilang dari negara Cina, tidak peduli saya <em>hitam-keling-sawo-busuk</em> begini, menurut mereka sama saja. Jadi <em>Ge-eR</em> deh, ihik). Dan kami pun ngobrol sekitar setengah menit sebelum saya benar-benar masuk. Senang, ternyata si bapak tidak&nbsp;galak!.</p>
<p>Begitu saya memulai bekerja di kantor, saya memakai taktik yang sama dengan taktik di setiap kantor baru: <strong><span class="caps">SKSD</span>: Sok Kenal Sok Dekat</strong>. Sapa sana sapa sini. Belagak-belagak bisa ngomong portugis biarpun cuma sebatas <em>bom dia</em> dan <em>como esta</em>. Berbeda dengan pengalaman di London, ternyata tanggapan dari teman-teman di kantor Luanda sini sungguhlah luar biasa. Mereka bukan hanya membalas segala sapaan itu, tapi langsung mengajak makan siang bersama, dan mulai membuka diri cerita-cerita dari masalah non-pribadi sampai cukup&nbsp;pribadi.</p>
<p>Baru beberapa minggu saya tiba di negara ini, saya sudah bisa bertemu dengan banyak teman baru. Rata-rata memang kolega tapi pertemanan kami dibawa sampai di luar kantor. Di sinilah saya merasa pas, akhirnya bakat cengengesan dan suka rumpi yang terpendam selama tujuh bulan kemarin itu terpuaskan&nbsp;sudah.</p>
<p>Hanya dengan cara memulai hari pertama dengan <strong>senyum</strong>. Mudah&nbsp;sekali..!</p>
<p>Di tempat umum pun begitu. Terus terang memang, untuk kita yang datang dari Indonesia, tampilan orang-orang sini memang menyeramkan, khususnya yang <strong>laki-laki</strong>. Sekarang saya di sini sudah 3 tahun, jadi sudah bisa membedakan mana yang <strong>bandidos</strong> (berandalan/ preman), mana yang orang biasa saja. Tapi ketika dulu baru sampai, semua orang di jalan rasanya seperti muka preman semua. Pernah saya ngobrol bersama teman yang sama-sama dari Asia (males ah, sebut negaranya) dan mereka bilang suka sebal sama orang sini yang kata mereka sombong-sombong dan tidak pernah menegur. Bawaannya melototin dari atas sampai bawah&nbsp;saja.</p>
<p>Memang ini benar, entah kenapa mereka kalau baru bertemu selalu melotot dulu bawaannya, beda dengan orang Indonesia yang hobby <em>basa-basi</em> (termasuk, contohnya saya) dan dari jauh saja sudah kelihatan senyum dan giginya. Tapi pengalaman saya dan Maskyu, begitu mereka melotot, kalau kita selalu sambut dengan cengiran manis dan bilang <em>Bom Dia</em> atau <em>Boa Tarde</em> (selamat siang) atau <em>Boa Noite</em> (selamat malam), langsung biasanya dibalas dengan tawa lebar yang memenuhi mukanya dan memamerkan gigi-gigi yang putih&nbsp;kinclong.</p>
<p>Ternyata yaaa..! Eh tapi sedikit tips buat yang berencana mengunjungi Angola: <strong>Jangan meremehkan preman-preman yang ada di jalanan ya..</strong> Biarpun mereka rata-rata masih muda, tapi rata-rata mereka pernah mengalami tahun-tahun ketika jaman perang 7-8 tahun yang lalu. Jadi kita tidak tahu apa saja yang pernah mereka lihat dan lewati semasa hidupnya, yang jelas saya masih suka mendengar suara-suara <em>bang bang dor dor dor</em> di tengah malam karena senjata tangan masih beredar luas di jalanan. Jadi, tetap <strong>hati-hati!</strong></p>
<p>&nbsp;Kembali ke soal ramah-tamah dan senyam-senyum, lucunya saya perhatikan, orang-orang dari kantor Inggris yang dulu hobby nggak nyahut itu kalau dibilang <em>&ldquo;Good Morning&rdquo;</em> , begitu mereka visit Angola sebentar saja, jadi ketularan super duper ramah dan keliatan gilanya. Setiap pagi sampai di kantor selalu menyapa semua orang di ruangan dengan bilang <em>Bom Dia</em> keras-keras. Lohh, kok.. Jadiiii.. berarti selama ini apa yaa???? :) Sering saya godain mereka, bilang kalau kebiasaannya jadi berbeda, mereka mengakui memang kalau kebiasaan berinteraksi dengan sesama ini&nbsp;menular.</p>
<p>Sering saya dikomentari sama kawan-kawan ekspat di sini atau kawan-kawan di kampung halaman: <strong>Kenapa sih suka banget tinggal di negara yang nggak enak ini</strong>, mana orangnya galak-galak pula. Dengan merendah saya cuma bisa bilang hanya satu rahasianya: <strong>Ya senyum dong</strong>.</p>
<p>Secara kebudayaan, <em>Angolans</em> adalah pribadi-pribadi yang ramah dan suka berkawan. Yang harus kita lakukan hanyalah membuka diri.. ya yang paling mudah adalah dengan cara tersenyum itu. Hitung-hitung hati jadi gembira dan teman pun tambah&nbsp;banyak. Benar sekali kalau ada pepatah yang mengatakan: tersenyumlah dan dunia pun tersenyum bersamamu.</p>
<p><strong>Sudahkah anda tersenyum hari ini? :)</strong></p>
<p>﻿<span style="text-decoration: underline;"><em>Note</em></span>: <em>Beberapa images diambil dari beberapa sumber dan adalah hak cipta masing-masing&nbsp;pemilik.</em></p>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-7187618.xml</wfw:commentRss></item><item><title>Mengaku Saja</title><category>Personal</category><category>Ramah Tamah</category><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Thu, 04 Feb 2010 11:22:37 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2010/2/4/mengaku-saja.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:6558238</guid><description><![CDATA[<p>Saya sudah mulai gila.<br />Tidak lama lagi saat itu akan tiba.<br />Mulailah menghitung hari-hari terakhir di Angola.<br />Sebentar lagi tidak&nbsp; bisa dengar kicauan kizomba di radio.<br />Atau berdansa sampai loyo tanpa ada yang perduli.<br />Atau kebebasan memakai pakaian apa pun tanpa ada yang menghakimi.<br />Atau pantai yang dekat dari rumah.<br />Atau teman-teman yang ramah dan selalu siap saling membantu.<br />Ah saya benci perpisahan.<br /><br />Apa ini berarti saya terlalu senang&nbsp; di sini?<br />Di sini? Di tempat yang apa-apa mahal, dan mencari makanan enak susah sekali?<br />Yang internet nya super lambat? <br />Yang tidak punya pusat perbelanjaan yang megah?<br />Yang mau pulang kampung saja harus dua hari perjalanan transit sini situ?<br />Ah, masak sih..<br /><br />Apa ini berarti saya tidak siap lagi memasuki balik dunia normal?<br />Ke dunia yang gampang beli baju dan beli make up<br />Dua hal kesukaan saya..<br />atau gampang mencari Starbucks di setiap pengkolan jalan<br />atau gampang mencari Big Mac dan iMac kapanpun kita mau<br />Asal punya uang<br />Dan semuanya serba gampang.<br /><br />Mungkinkah benar kata orang-orang bijak<br />Manusia itu candu akan masalah dan tantangan<br />Karena kegampangan itu tidak menarik<br />benarkah ini?<br />Ah masak sih..<br /><br />Yang ada di kepala saya saat ini<br />Saya takut kesederhanaan yang nikmat ini akan terambil lagi <br />Tidak mau seperti saat-saat dulu<br />Ketika saya hidup di dunia normal<br />Ketika semua fasilitas serba mudah<br />Dan menimbulkan keinginan-keinginan yang membuncah <br />Mendominasi akal dan menutup hati nurani<br />Saat-saat dulu ketika di tengah kegampangan pun hanya terlihat kesusahan<br />Karena terlalu terbiasa<br /><br />Ya, saya takut<br />Saya takut saya hanya melulu melihat diri sendiri<br />Seperti dahulu<br />Ketika mata selalu tertutup dan tidak mampu melihat realita dari lain sisi<br />Karena terlalu terbiasa<br /><br />Ah saya terperangkap lagi di sini<br />Di kekacauan akal yang berusaha mendefinisi segala sesuatu<br />Saya harus berhenti sekarang dan mengaku sajalah:<br />Saya benci perpisahan.</p>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-6558238.xml</wfw:commentRss></item><item><title>Cerita Pindah Rumah Bersama Tom &amp; Jerry</title><category>Angola</category><category>Angola</category><category>Personal</category><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Tue, 30 Jun 2009 19:19:59 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2009/6/30/cerita-pindah-rumah-bersama-tom-jerry.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:4483053</guid><description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selama ini saya rasa teman-teman dekat keluarga dan teman-teman blogging sudah buosan buanget denger cerita tentang tetangga disco outdoor di sebelah rumah yang bikin saya tidak bisa tidur setiap weekend. Nadia ini udah jarang ngapdet, begitu ngapdet ceritanya tetangaaa melulu. Nnah... Belakangan ini mereka semakin menggila. Rutin berpesta setiap hari Rabu malam, Jumat, Sabtu dan Minggu malam. Segala daya upaya untuk menyadarkan si pemilik rumah untuk tidak membisniskan rumahnya untuk dijadikan disko sudah dilakukan, tapi tidak mempan. Melihat tamu-tamu yang datang ke tempat pesta itu, dengan mobil sejajaran kelas BMW X5, rasanya hampir tidak mungkin untuk membuat mereka mengerti untuk tidak meneruskan bisnisnya dan memikirkan orang lain.&nbsp; *ingat jaman orba?* Saya sebenarnya sudah merekam salah satu pesta heboh mereka di videocam sekadar untuk kenang-kenangan kali-kali kangen dengan pemandangan pesta mereka yang lengkap dengan lampu kerlap-kerlip dan asap panggung ala Aneka Ria Safari. Tapi saya masih ragu-ragu untuk memasang di blog, ntar terjerat pasal-pasal dan undang-undang yang saya kurang mengerti, wah berabe!<br /><br />Luanda ini adalah sebuah kota yang di-design untuk 400.000 orang, tapi saat ini penduduknya membengkak sebanyak 4-5 juta orang. Bisa dibayangkan betapa susahnya cari rumah di sini. Harganya jangan dikira (untungnya untuk kami2 yang dikirim ini semuanya dijamin oleh kantor), tapi pun kalau mampu membayar, belum tentu ada stock rumah kosong. Jadi untuk saga si tetangga disco ini, demi supaya bisa tidur dan istirahat pada waktu yang seharusnya istirahat, kami sudah memohon-mohon untuk pindah, kantor pun sudah menyanggupi akan mensponsor.. dengan catatan, kalau ada rumah kosong di manapun, di kota. Menunggu sebulan, menjadi setengah tahun,satu tahun,.. rasanya seperti forever.. Tapi, siapa sangka setelah satu setengah tahun, akhirnya Tuhan mendengar doa ratapan kami.. Yay!! :)<br /><br />Resmi minggu lalu, saya dan Maskyu pindah rumah. Letaknya pas di depan <a href="http://cidadesmundo.home.sapo.pt/africa/luanda/luanda1.html">Baia de Luanda</a>, terletak di lantai 14. Jujur saja, dari atas sini bisa lupa kalau sedang di Luanda yang jalan-jalannya becek bau dan kotor itu. Dari atas, semuanya kelihatan indah dan romantis! Haha. Belum lagi pas di seberang ada gedung baru yang dibuat oleh kontraktor cina dan berwarna gold. Konon konstruksi gedung ini memakan waktu hanya dalam hitungan bulan. Tapi bukan itu yang membuat kami senang dengan gedung emas ini. Ternyata, setiap malam di sepanjang sisi gedung setinggi kurang lebih 30-an lantai ini diputar film Tom &amp; Jerry gede-gede, bouuwww! Film bisu, tapi warna-warni begituu... hahahha.&nbsp; Layarnya ya sepanjang gedung itu. Guede! Lumayan kan, sebelum tidur longok jendela, nonton film dulu hyuuuk.. hihihihihi.. :) *<em>tomcat tomcat woof woof</em>*<br /><br />Akhir minggu kemaren ini baru merasakan ternyata enak juga yaa, kalau bisa tidur di akhir minggu. Penat dari kantor di hari-hari kerja pun bisa terbayar.. :) <br /><br />Ngomong-ngomong soal pindahannya sendiri, kita pakai mover company dari sini dan sejujurnya tadinya saya sudah ancang-ancang nih mau mengamati tingkah-tingkah apa lagi ya, yang kocak-kocak dari mereka. Dulu pengalaman mover company di Inggris cukup bikin nyolot; rasanya saya yang tuan rumah, tapi dia nyuruh-nyuruh saya buatin teh pake ngambek pula karena dosis susu dan gula nya nggak seperti yang dia mau. Ada-ada aja. Makanya, pengen liat, kalo orang Angola yang jadi mover bakalan gimana. Selama 2 tahun di sini kan kurang lebih udah mengenal tingkah-tingkah ada-ada aja (duuh sombong banget sih gue, kaya gue bener aja deu).. Makanya ambil-ambil ancang-ancang kali aja ada yang bisa ditulis di blog, heheheh. Ternyataa.. kerja mereka efisien sekali, bungkus membungkus barang-barang dari yang pecah belah, barang kecil sampai yang besar cepat banget. Target selesai jam 5 sore, tapi jam 2.30 pekerjaan sudah rampung. Belum lagi sopan banget. Hebat! Moral of story: Jangan Suudzon. <br /><br />Sekarang tinggal beberapa boks lagi (dikiiiit lagi) yang diunpack. Ntar kalo kamera nya udah ketemu di boks yang mana, saya jepret yah film Tom &amp; Jerry nya. Biar pada ngiri, soalnya mana ada film segede gitu di Jakarta... :P</p>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-4483053.xml</wfw:commentRss></item><item><title>Pertunjukan Teater "Ma Ravan" di Luanda</title><category>Angola</category><category>Review</category><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Thu, 07 May 2009 20:37:59 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2009/5/7/pertunjukan-teater-ma-ravan-di-luanda.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:3916585</guid><description><![CDATA[<p><a href="http://translate.google.com/translate?prev=hp&amp;hl=en&amp;js=n&amp;u=http%3A%2F%2Fwww.angoladigital.net%2Fartecultura%2Findex.php%3Foption%3Dcom_content%26task%3Dview%26id%3D1167%26Itemid%3D41&amp;sl=pt&amp;tl=en" target="_blank">Ma Ravan</a>, sebuah pertunjukan teater yang saya tonton kemaren di teater Cha da Caxinda, yang lokasinya cukup jalan kaki dari kantor saya. Group seni Theatre Taliipot ini berpusat di Reunion, sebuah negara di lautan Hindia. Artis-artisnya ada empat orang, berasal dari negara2 lautan Hindia itu: Madagascar, Mauritius dan Reunion.</p>
<p>Terbiasa dengan kesenian Africa yang gembira dan hingar bingar, saya agak kaget juga menonton grup seni ini. Walaupun penuh dengan gerakan-gerakan dinamis, tapi keseluruhan performance gelap, dalam dan sedikit mistikal. Negara2 di lautan Hindia yang tepatnya berada di pantai timur benua Africa memang terkenal sebagai melting point dari kebudayaan-kebudayaan besar dunia: kebudayaan Eropa, Africa dan India. Memang terlihat, bahkan oleh seseorang yang buta seni seperti saya.</p>
<p>Dibuka oleh gaung yang mengingatkan saya akan screenshot meditasi di film-film, dan gerakan-gerakan yang mirip pose-pose yoga termasuk surya namaskar, bohong kalau dibilang tidak ada pengaruh kebudayaan India di situ. Tidak ada hingar bingar keriaan ala kebudayaan africa barat. Di sini mereka seperti hendak mengekspresi emosi-emosi manusia. Terus terang saya sempat sedikit terintimidasi oleh emosi-emosi yang ditampilkan para artis, apalagi pada suatu titik yang saya pikir mereka sedang melukiskan dunia kematian. Indah, namun gelap.</p>
<p>Jalur ceritanya? Wah ini masih teka-teki buat saya. Sebelum pertunjukan, memang oleh pembawa acara diceritakan sedikit, tapi dalam bahasa perancis yang saya mengerti hanya 0%, dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Portugis yang saya mengerti hanya 35% (maklum, di sini bahasa Inggris kurang populer, apalagi bahasa Indonesia). Yang saya tangkap, ada sekitar2 slavery, run away, ada tangan2 yang dipotong, sekitar-sekitar itulah. <strong><em>*maap yaa, gak informatif banget! hihihi.. *</em></strong></p>
<p>Kesan keseluruhan: Memukau... dan gelap. (<em>did i just say it again</em>.. gelap?)</p>
<p><em><strong><span class="full-image-inline ssNonEditable"><span><img src="http://nadiafebina.com/storage/foto4.jpg?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1241730253300" alt="" /></span></span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="full-image-inline ssNonEditable"><span><img style="width: 400px;" src="http://nadiafebina.com/storage/Foto7.jpg?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1241730114197" alt="" /></span></span></strong></em></p>
<p><em><strong><span class="full-image-inline ssNonEditable"><span><img src="http://nadiafebina.com/storage/Foto010.jpg?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1241730332980" alt="" /></span></span><br /></strong></em></p>
<p><span class="full-image-inline ssNonEditable"><span><img src="http://nadiafebina.com/storage/Fto1.jpg?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1241730391778" alt="" /></span></span></p>
<p><em><strong>Pictures are taken from the promotional email sent around prior to the show day.</strong></em></p>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-3916585.xml</wfw:commentRss></item><item><title>Sabar.. Sabar.. Cengengesan Yuk... Zzzzzz</title><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Thu, 07 May 2009 09:37:20 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2009/5/7/sabar-sabar-cengengesan-yuk-zzzzzz.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:3911686</guid><description><![CDATA[<p>Kadang ada saat2 yang merasa kita lagi dibimbing oleh Sang Pencipta<br/>tentang pelajaran "kesabaran".</p><p>Bukan, bukan hal muluk2. Hanya hal sepele. Lagi-lagi si tetangga. Kali<br/>ini di hari Rabu malam mereka berdisko ria sampai jam 2 pagi. Saya tidak<br/>bisa tidur. Kebrisikan. Bass nya menusuk gendang telinga. Dum dum dum.<br/>Air minum di atas meja pun sedikit bergoyang karena getaran nya. Semalam<br/>sekilas sempat teriak di dalam kepala, kok ada ya hari gini orang tidak<br/>punya perasaan. Tapi, ya sudahlah, lebih baik tertawa2 bersama Maskyu,<br/>dengan kalimat favorit nya: "kasiaaan deh kita!".  Hari ini pun saya<br/>terlalu ngantuk untuk bahkan berbicara. Apalagi bekerja. Maunya hanya<br/>zzzzzzzzz.... Tapi kan masih punya kewajiban untuk ngantor.</p><p>Maskyu pernah ambil rekaman pesta mereka dari balcony kamar tidur kami.<br/>Buat kenang-kenangan. Kapan-kapan saya post kalau ada waktu. Hanya untuk<br/>lucu-lucuan. Hehe. </p><p>Kalau hari lagi lambat begini, daripada ngomel2 saya memilih untuk<br/>cengengesan saja, huehuheheh.<br/>Ternyata energi yang dipakai untuk cengengesan jauh lebih rendah<br/>daripada ngomel2, walaupun ngomel2 hanya dalam kepala... hehehe :)</p><p>Selamat hari Kamis teman2, akhir minggu tinggal satu hari lagi. Dan saya<br/>menanti untuk dapat tidur pulazzzzzz.... Zzzzzzz....</p><p>*maap curhat colongan!* :)</p>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-3911686.xml</wfw:commentRss></item><item><title>Yang Kedua dari Volume Band</title><category>Ramah Tamah</category><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Tue, 05 May 2009 18:44:04 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2009/5/5/yang-kedua-dari-volume-band.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:3897120</guid><description><![CDATA[<p>Nih dia band favorite gue kali ini. Keren dueh!</p>
<p>Apalagi gitaris nya itu aw aw aw... teman2 sekalian sesama abege imut2, yuuk maree kita pelototin video klip nya. <em><strong>*eh emang gue abege.. sirik aja!! wkwkwkwkwk*</strong></em></p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/HMJ2hZLXtRQ&color1=0xb1b1b1&color2=0xcfcfcf&feature=player_embedded&fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/HMJ2hZLXtRQ&color1=0xb1b1b1&color2=0xcfcfcf&feature=player_embedded&fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p><em>Oke deh ngaku, gitaris nya sepupu gue, boleh dong bangga sama sepupu sendiri!! :D<br /></em></p>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-3897120.xml</wfw:commentRss></item><item><title>Angola Menuju Energy Independence</title><category>Angola</category><category>Energy</category><category>Indonesia</category><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Tue, 14 Apr 2009 20:29:43 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2009/4/14/angola-menuju-energy-independence.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:3645292</guid><description><![CDATA[<p>Hari ini ada sebuah email sampai di mailbox saya yang isinya adalah berita di bawah ini. Tentang Angola yang berencana membuat kilang minyak supaya dapat memenuhi kebutuhan energi nya tanpa harus bergantung dengan impor BBM dari negara lain. Sesuatu hal yang duluuu sekali sangat bisa dilakukan oleh negara tercinta kita ketika Indonesia masih punya kapital dan sumber daya minyak yang cukup. Tapi dulu itu anehnya kita memilih untuk membeli produk. <em>*marilah di sini tidak usah kita diskusikan kenapa-kenapa nya bisa panjaaaaang*</em></p>
<p>Ah mimpi saya dari lubuk hati yang dalam selalu berharap semoga bumi cantik Indonesia ini akan sampai pada satu masa dimana dia bisa mandiri dalam hal energi. Entah dari minyak, gas; atau kalau memang minyak dan gas sudah habis, mungkin bisa dilirik minyak nabati (biofuel), atau sumber-sumber energi alternatif lainnya yang kita gak kurang sumberdaya alamnya tentunya. Insya Allah.</p>
<p><em>*selama ini kurang engineer, mungkin? Atau kurang investor? Atau dua-duanya? Atau..?? Ah kalo engineer saya sangat yakin bahwa produk lokal banyak yang sangat amat kompeten sisanya bisa dikit-dikit impor dari luar toh hari gini pasar bebas, tapi kalo masalah duit itu!*</em></p>
<p>Janganlah bermimpi dulu ingin seperti Brazil yang<em> energy independent</em>, bisa-bisa tidak lama lagi kita terkejar oleh Angola.</p>
<div style="border: 4px solid #e5e5e5; margin: 12px 0px; background: #ffffff none repeat scroll 0% 0%; font-family: arial; color: #333333; width: 100%; clear: left;">
<div class="CM_CTB_Content_Wrap" style="margin: 0px; padding: 0px;background-color: #ffffff;">
<div style="border-bottom: 1px solid #dcdcdc; white-space: nowrap; margin-bottom: 8px; background-color: #eeeeee; background-image: url(http://clipmarks.com/images/source-bg.gif); background-repeat: repeat-x; height: 24px; line-height: 24px; vertical-align: middle; padding-bottom: 4px; color: #666666; font-size: 10px;"><a title="clipmarks' clip-to-blog" href="http://clipmarks.com/clip-to-blog/"><img style="vertical-align: middle; margin: 0px 4px; display: inline; border: none; float:none;" src="http://content.clipmarks.com/blog_embed/33f5ee71-2d25-4fd2-a527-0cb00e431b98/FC6DDC80-F63A-4A32-A468-6459BEAFAA26/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a style="font-size: 11px;" title="http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/04/14/09121081/kilang.kelar.angola.hentikan.impor.minyak" href="http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/04/14/09121081/kilang.kelar.angola.hentikan.impor.minyak">internasional.kompas.com</a><a id="inlineSaveTarget" class="button button-important" onclick="this.blur(); Squarespace.ConfigurationTray.issue('save');; return false;" onmouseout="this.blur();" href="javascript:noop()"><span><br /></span></a></div>
<blockquote style="text-align: left; padding: 0px 8px; margin: 4px 0px 8px 0px; background: transparent; border: none;" cite="http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/04/14/09121081/kilang.kelar.angola.hentikan.impor.minyak">
<div class="judulisiberita">Kilang Kelar, Angola Hentikan Impor Minyak</div>
</blockquote>
<div style="border-bottom: 1px solid #f5f5f5; margin: 2px 4px; background: #dcdcdc none repeat scroll 0% 0%; height: 2px; font-size: 2px;"></div>
<blockquote style="text-align: left; padding: 0px 8px; margin: 4px 0px 8px 0px; background: transparent; border: none;" cite="http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/04/14/09121081/kilang.kelar.angola.hentikan.impor.minyak">
<p>&nbsp;</p>
<div><strong>LUANDA, KOMPAS.com </strong>&mdash; Perusahaan minyak milik Pemerintah Angola merencanakan menghentikan mengimpor minyak mentah sulingan dalam dua tahun ke depan pada saat kilang-kilang barunya mulai beroperasi, media setempat melaporkan, Selasa (15/4).</div>
<br />Rencananya akan dibangun sebuah kilang kedua di kota pantai Lobito, tempat pekerjaan saat ini hampir final. Menurut harian <em>Jornal de Angola</em>, Sonangol berniat menghentikan impor bensin dan solar dalam dua tahun ke depan.
<p>&nbsp;</p>
</blockquote>
<div style="border-bottom: 1px solid #f5f5f5; margin: 2px 4px; background: #dcdcdc none repeat scroll 0% 0%; height: 2px; font-size: 2px;"></div>
<blockquote style="text-align: left; padding: 0px 8px; margin: 4px 0px 8px 0px; background: transparent; border: none;" cite="http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/04/14/09121081/kilang.kelar.angola.hentikan.impor.minyak">
<div>Meskipun bersaing dengan Nigeria menjadi produsen minyak terbesar Afrika, Angola secara ironis telah mengimpor 60 persen dari kebutuhan bensinnya karena kilang yang ada belum dapat mencukupi permintaan nasional.</div>
</blockquote>
<div style="border-bottom: 1px solid #f5f5f5; margin: 2px 4px; background: #dcdcdc none repeat scroll 0% 0%; height: 2px; font-size: 2px;"></div>
<blockquote style="text-align: left; padding: 0px 8px; margin: 4px 0px 8px 0px; background: transparent; border: none;" cite="http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/04/14/09121081/kilang.kelar.angola.hentikan.impor.minyak">
<div>Diperkirakan, kilang baru berbiaya delapan miliar dollar AS (enam miliar euro), dua kali estimasi resmi, tersebut akan dihubungkan dengan jalan-jalan baru dan fasilitas <em>offloading </em>untuk membantu mempercepat distribusi ke seluruh negara itu.</div>
</blockquote>
</div>
<div style="margin: 0px 6px 6px 4px;">
<table style="font-size: 11px;border-spacing: 0px;padding: 0px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0px;padding:0px;">&nbsp;</td>
<td style="border-width: 0px; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; width: 107px;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/FC6DDC80-F63A-4A32-A468-6459BEAFAA26/blog/"><img style="border-width:0px;padding:0px;margin:0px;" src="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</div>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-3645292.xml</wfw:commentRss></item><item><title>Dua Pengalaman Baru Dalam Sehari (2)</title><category>Angola</category><category>Personal</category><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Sun, 12 Apr 2009 14:27:33 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2009/4/12/dua-pengalaman-baru-dalam-sehari-2.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:3624804</guid><description><![CDATA[<p>Sambungan dari cerita minggu lalu. Pengalaman pertama disebut di situ: berwater ski. Pengalaman yang kedua? Daripada berpanjang-panjang, saya langsung aja deh. Jadi hari itu, saya berkenalan dengan ubur-ubur. Sakit boook... Apa ya istilahnya kalau bahasa indonesia, digigit? bukan digigit kan, bahasa inggris nya: stung by jellyfish. Bahasa Indonesia nya ada yang tau??<br /><br />Saya lagi berenang-renang di pinggir pantai pulau cilik Musulo ini. Gak ada ombak dan yang ngeri-ngeri sebagainya, air nya dataaar sekali seperti di kolam renang. Lagi menikmati kecipuk-kecipuk, saya berenang ke tempat yg sedikit lebih jauh.. tiba-tiba, Auuuuwww!! Rasanya seperti kebaret pisau, dan cukup dalem gitu nembus syaraf (berlebihan gak ya, hmmm.. tapi rasanya memang begitu). Kena nya di bawah lengan sebelah kiri. Memang hanya membengkak sedikit, tapi sakitnya lumayaaaan banget :(<br /><br />Panik saya langsung minta tolong ke mas-mas restaurant kali mereka tau apa yang baru menyerang saya dan mungkin mereka punya sesuatu di kotak P3K. Mereka cuma senyum-senyum sambil merendam tangan saya dengan alkohol dan bilang: "<em>E Coreca. Espera, so vinte minutos</em>" (itu ubur-ubur, tunggu saja 20 menit). Ehh, memang benar loh setelah 20 menit, sakit nya mereda, kok mereka tau ya? hehehe... :) <br /><br />Setelah lewat 20menit ini saya baru keinget di salah satu episode Friends yang mereka lagi berlibur dan Monica kena ubur-ubur (inget??), daannn... Joey harus dengan terpaksa (maaf) <em>mengencingi </em>bagian kulit Monica yang bengkak itu dengan dasar bahwa ammonia yang terkandung dalam pipis manusia bisa menjadi antivenom si ubur-ubur ini. Oalaa... untungnya gue dikasih alkohol doang! Hahahaha...</p>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-3624804.xml</wfw:commentRss></item><item><title>Dua Pengalaman Baru Dalam Sehari (1)</title><category>Angola</category><category>Personal</category><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Sun, 05 Apr 2009 15:38:08 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2009/4/5/dua-pengalaman-baru-dalam-sehari-1.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:3562334</guid><description><![CDATA[<p>Di masa paceklik seperti ini dimana banyak perusahaan yang merestrukturisasi organisasinya demi penghematan, rasanya tidak pantas untuk berkeluh kesah ketika kita terlalu sibuk karena kebanyakan kerjaan. Mendapat kesempatan bekerja untuk menopang hidup adalah sesuatu yang harus disyukuri. Tapi bohong pula rasanya kalau saya mengaku dua minggu kemaren ini saya sehat jasmani rohani dan segar bugar. Entah kenapa ada perasaan kesal karena kok kayaknya di kantor "little little to me" dan hasilnya malam hari pun sukar sekali rasanya untuk memejamkan mata karena panik harus kerjakan ini itu besok harinya. Walau saya sadar ini tetap sesuatu yang harus disyukuri, tapi tidak dipungkiri perlu usaha ekstra untuk menikmati kepenatan dan kepala cenat cenut jantung deg2an itu. Kesimpulan, minggu lalu adalah minggu penuh tekanan.<br /><br />Belum lagi ditambah berita duka yang terjadi kepada saudara2 kita di Situ Gintung. Kebetulan rumah seorang kerabat dekat saya hanya 500m dari situ, tapi alhamduillah semua baik2 saja. Dan seminggu sebelum peristiwa Situ Gintung itu, kerabat dekat saya yang lain juga baru saja berpulang ke pangkuanNya dengan tenang. Karena peristiwa-peristiwa ini, saya menyebut masa kemaren ini Minggu Kelabu. Normal rasanya di tengah tekanan pekerjaan dan berbagai berita duka di kampung halaman, pertanyaan "What am I doing here??" mendera setiap hari.<br /><br />Mungkin lantaran kebetulan, atau mungkin lantaran Tuhan capek mendengar keluhan2 di kepala saya, tiba-tiba Jumat malam seorang teman menelfon Maskyu. "Besok ikut gue water ski yuk, sekalian refreshing pake boat muter2 di sekitar <a href="http://nadiafebina.com/blog/2007/3/20/a-day-in-musulo-island.html" target="_blank">Musulo</a>". Reaksi pertama saya, "huaa, gak bisa, kan ada yg harus selesai buat hari Senin, jadi gw mau ngerjain weekend". Setelah bujuk rayu Maskyu bahwa istirahat dan relaksasi di udara segar itu sangat penting untuk kesehatan dan produktivitas, akhirnya saya setuju untuk ikut, dan lagipula Maskyu bilang, "kan gratis giling, kapan lagee!" Iya juga sih. Hehe.<br /><br />Untung saya memutuskan untuk ikut, karena wiken kemaren saya mendapat dua pengalaman baru dalam sehari. Yess!<br /><br /><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pengalaman Pertama</strong><br /></span>Judulnya hari ini kan ya pada ingin berwater ski, dan saya sebenernya pernah dulu sekali nyoba di Benoa, Bali, tapi terus karena berakhir dengan nyungsep dua kali, saya pun berikrar gak mau coba lagi, olahraga yang satu ini bukan buat saya *sakit booook*. Makanya pas sampai di boat dan temen2 (total kita berempat) lagi siap-siap, saya udah bilang dengan sangat tegas, "gue enggak ya. nonton aja".<br /><br />Berhubung yang lain juga sebenernya amatiran dalam water ski, saya ketawa aja melihat mereka nyungsep-nyungsep dengan suksesnya, haha.. Emang enak. Sementara mereka bergulat dengan air yang masuk-masuk ke hidung itu, saya pun menikmati pemandangan alam yang cukup indah di sana. <a href="http://nadiafebina.com/blog/2007/3/20/a-day-in-musulo-island.html" target="_blank">Musulo</a> ini pulau kecil yang hanya 20menit dari Luanda dan di sekitar <a href="http://nadiafebina.com/blog/2007/3/20/a-day-in-musulo-island.html" target="_blank">Musulo</a> ini ada bangunan-bangunan peninggalan jaman kolonial yang berkarakter, dan udara nya cukup esh. Di sekitar sini juga terkenal banyak kumpulan kura-kura, jadi ketika lagi bengong2 keenakan di atas boat, saya liat ada kura-kura besaaaar sekali tiba-tiba muncul ke permukaan. Senang deh liatnya! :) Berapa ya umurnya kura-kura sebesar itu, 100thn? Sayang gak sempet ambil foto dia udah menyelam lagi.</p>
<p><br /><br /><span class="full-image-float-right ssNonEditable"><span><img style="width: 300px;" src="http://nadiafebina.com/storage/slavery museum.jpg?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1238947065541" alt="" /></span><span class="thumbnail-caption" style="width: 300px;">museum perbudakan dilihat dari laut</span></span>Saya pikir saya sudah sangat terhibur dengan hiburan pemandangan indah dan kura-kura itu. Tapi kok ya, merasa tertantang juga untuk ikut-ikut berwater ski. Ternyata Maskyu lama-lama sudah cukup mahir juga,.. huh, gak mau kalah dong. Akhirnya... "OK, it's my turn now!" Teman-teman bertepuk tangan. Huehehehe. Deg2an.<br /><br />Teman yang paling mahir bilang, "try wakeboard, it's a lot easier". Oke, saya turuti, saya pinjam wakeboard si teman ini. Sedikit kebesaran kakinya, dia cowok sih, bule pula. Tapi gak papa, saya coba aja. Begitu ambil posisi untuk ditarik sm boat, saya mencoba untuk berdiri di atas wakeboard.. tp begitu mau ditarik ternyata badan saya tertarik dengan suksesnya, tapi wakeboardnya mengapung ketinggalan di blakang.. Hahaha, makanya jangan pake yang kegedean! Nyungsep lagi deh, kekeke, tapi gak sakit kok.<br /><br />Oke, wakeboard gak bisa dipakai, dan saya pun mencoba pakai ski nya, karena ski ini di bagian kakinya bisa diadjust. Begitu ambil posisi untuk launch, terus sekelibat teringat peristiwa Benoa (huaa, trauma!), sempet takut... tapi terus sekelibat berikutnya teringat Maskyu dan kawan-kawan yang mulai bisa meluncur dengan asyiknya saya jadi bersemangat lagi, hehe. Ditarik sekali oleh boat, eeh lumayan saya bisa jongkok di atas dua papan ski itu, tapi trus kehilangan keseimbangan dan plung, jatoh, hehe. <br /><br /><span class="full-image-float-left ssNonEditable"><span><img style="width: 300px;" src="http://nadiafebina.com/storage/old church.jpg?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1238947176417" alt="" /></span><span class="thumbnail-caption" style="width: 300px;">sebuah gereja tua</span></span>Lalu coba sekali lagi... Kali ini mulai pede karena tadi jatohnya gak sakit. Begitu ditarik, saya coba jongkok, ahh bisa, lalu mencoba berdiri, yak bisaaa... satu detik, dua detik, dan... gubraaaakkkkk. Hahaha.. semua bertepuk tangan... at least bisa berdiri katanya. Ah bangganya!! Walaupun kesenangan itu hanya berlangsung dua detik, tapi saya mau nyombong di sini, boleh dong, kan di blog sendiri, hahahahaha. Sayang, karena cuma sekejap itu gak sempet ambil skrinsyut kalo enggak suer deh saya udah pajang gede-gede di sini, kekekek.<br /><br />Semoga nanti ada kesempatan lagi untuk mencoba berwater ski lagi, dan memperpanjang waktu berdiri dari 2 detik sampe 5 detik atau lebih, amieen amieen. So, next time semoga ada skrinsyut oke! :)<br /><br />Lumayanlah tambah satu pengalaman, dan sebenernya masih ada pengalaman baru berikutnya di hari itu, tapi disambung di posting berikutnya ya.. karena di sini udah kepanjangan, males kan bacanya.. :)</p>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-3562334.xml</wfw:commentRss></item><item><title>Terjemahan Oom Google</title><category>Personal</category><dc:creator>nadia febina</dc:creator><pubDate>Fri, 13 Feb 2009 17:48:29 +0000</pubDate><link>http://nadiafebina.com/blogbahasa/2009/2/13/terjemahan-oom-google.html</link><guid isPermaLink="false">36422:2080443:3021984</guid><description><![CDATA[<p><span class="full-image-float-left ssNonEditable"><span><img src="http://nadiafebina.com/storage/internet_dreamstime.jpg?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1234548593873" alt="" /></span></span>Oke sekarang main ngaku-ngakuan yuk. Jadi gini, cerita asal muasal dibuat "My Indonesian Blog" itu selain karena biar lebih bebas berekspresi kalau otaknya lagi bekerja dalam bahasa Indonesia, juga sebenernya lebih ke alasan yg kedua ini: Suatu hari seorang teman kantor yang berkebangsaan Inggris tiba2 nyeletuk di ruangan, "wah gw gak tau nih kalau di antara kita ada yg blogger". Duh, saya pikir gak asik bener nih kalo saya lagi curhat-curhat gak keruan di blog, belum lagi kalo grammar belepotan.. Bisa amblas reputasi yang dibangun bertahun-tahun, heheee. Saya waktu itu sih cuma bilang sebisanya, "nnaah yaa, ketauan lo suka ngegugelin gue lo yaa". Dia sih ngakunya enggak, katanya dia kasih keyword ini itu tiba2 muncul blog saya di gugel. Oke deh.<br /><br />Jadi dengan alasan males kalau tulisan ngalor ngidul dibaca dunia luas (baca: non-indonesian world), dibuatlah blog dalam bahasa Indonesia. Trus kemaren baru ngobrol sama si <a href="http://pralangga.blogspot.com"><span style="text-decoration: underline;">Kang Luigi</span></a>, diingetin katanya percuma aja toh, sekarang kan ada google translate. *<em>Oh iya ya..</em>*<br /><br />Penasaran, hari ini coba-coba translate blog indonesia ke bahasa Inggris lewat google translate. Ternyata menghibur juga ngeliat hasil translate-an oom gugel ini. Coba deh, misalnya ambil posting yang judulnya <a href="http://nadiafebina.com/blogbahasa/2009/1/14/muka-kere.html" target="_blank">Muka Kere</a>, ditranslate jadi judulnya <a href="http://translate.google.com/translate?prev=hp&amp;hl=en&amp;u=http%3A%2F%2Fnadiafebina.com%2Fblogbahasa%0D%0A&amp;sl=id&amp;tl=en" target="_blank">Front Beggar</a>. Dan isinya jadi begini:</p>
<blockquote>
<p>Front Beggar<br /><span onmouseover="_tipon(this)" onmouseout="_tipoff()">Why yaa ..</span> <span onmouseover="_tipon(this)" onmouseout="_tipoff()"><span class="google-src-text" style="direction: ltr; text-align: left;">.</span> Maskyu the same way in the streets of Luanda sure many here diikutin same beggar children and beg, but if I alone on the road nyuekin me yah, hihihi.</span><span onmouseover="_tipon(this)" onmouseout="_tipoff()"> Because of face time a beggar?</span> huehuehue</p>
</blockquote>
<p>Bwahahahahahahah, bahasanya cap cay es campur. Jadinya ternyatanya oom gugel belum dididik bahasa Indonesia jalanan ya Oom.. Eh tapi hebat loh dia tau Kere itu artinya Beggar. Salut!<br /><br />Selamat wiken ya buat semua... :) Selamat menikmati kesempatan beristirahat yang hanya dua hari dalam seminggu ini..! <em>Bom fim de semana! (--&gt; bahasa portugis, monggo ditanya artinya sama oom gugel)</em></p>
<p><em>picture is courtesy from <a href="www.dreamstime.com">www.dreamstime.com</a><br /></em></p>]]></description><wfw:commentRss>http://nadiafebina.com/blogbahasa/rss-comments-entry-3021984.xml</wfw:commentRss></item></channel></rss>