« Yang Kedua dari Volume Band | Main | Dua Pengalaman Baru Dalam Sehari (2) »
Tuesday
Apr142009

Angola Menuju Energy Independence

Hari ini ada sebuah email sampai di mailbox saya yang isinya adalah berita di bawah ini. Tentang Angola yang berencana membuat kilang minyak supaya dapat memenuhi kebutuhan energi nya tanpa harus bergantung dengan impor BBM dari negara lain. Sesuatu hal yang duluuu sekali sangat bisa dilakukan oleh negara tercinta kita ketika Indonesia masih punya kapital dan sumber daya minyak yang cukup. Tapi dulu itu anehnya kita memilih untuk membeli produk. *marilah di sini tidak usah kita diskusikan kenapa-kenapa nya bisa panjaaaaang*

Ah mimpi saya dari lubuk hati yang dalam selalu berharap semoga bumi cantik Indonesia ini akan sampai pada satu masa dimana dia bisa mandiri dalam hal energi. Entah dari minyak, gas; atau kalau memang minyak dan gas sudah habis, mungkin bisa dilirik minyak nabati (biofuel), atau sumber-sumber energi alternatif lainnya yang kita gak kurang sumberdaya alamnya tentunya. Insya Allah.

*selama ini kurang engineer, mungkin? Atau kurang investor? Atau dua-duanya? Atau..?? Ah kalo engineer saya sangat yakin bahwa produk lokal banyak yang sangat amat kompeten sisanya bisa dikit-dikit impor dari luar toh hari gini pasar bebas, tapi kalo masalah duit itu!*

Janganlah bermimpi dulu ingin seperti Brazil yang energy independent, bisa-bisa tidak lama lagi kita terkejar oleh Angola.

Kilang Kelar, Angola Hentikan Impor Minyak

 

LUANDA, KOMPAS.com — Perusahaan minyak milik Pemerintah Angola merencanakan menghentikan mengimpor minyak mentah sulingan dalam dua tahun ke depan pada saat kilang-kilang barunya mulai beroperasi, media setempat melaporkan, Selasa (15/4).

Rencananya akan dibangun sebuah kilang kedua di kota pantai Lobito, tempat pekerjaan saat ini hampir final. Menurut harian Jornal de Angola, Sonangol berniat menghentikan impor bensin dan solar dalam dua tahun ke depan.

 

Meskipun bersaing dengan Nigeria menjadi produsen minyak terbesar Afrika, Angola secara ironis telah mengimpor 60 persen dari kebutuhan bensinnya karena kilang yang ada belum dapat mencukupi permintaan nasional.
Diperkirakan, kilang baru berbiaya delapan miliar dollar AS (enam miliar euro), dua kali estimasi resmi, tersebut akan dihubungkan dengan jalan-jalan baru dan fasilitas offloading untuk membantu mempercepat distribusi ke seluruh negara itu.
  blog it

PrintView Printer Friendly Version

Reader Comments (7)

dua taun lalu aku ngerjain skripsi tentang pabrik bahan bakar dari aspal dan sekarang pabriknya sedang dibangun. sebenernya kita bisa kok. tapi entah kenapa ya rasanya kok kayak ndak yakin gitu kalo pemerintah akan mempercayakan pemberdayaan energi ini pada anak bangsa sendiri.

Ya akhirnya kita para engineer kerja buat foreign oil company. Semoga siapapun yang jadi presiden nanti aware dengan masalah ini.

Btw nadia nyontreng tak pemilu kemarin? :p eh salam kenal yaaa
April 14, 2009 | Unregistered Commenterchristin
hi Christin,
iyaa rasanya technically we're very ok ya.. tapi kalo urusan energi itu urusan bisnis dan politik tingkat tinggi juga kali ya? Maybe, dunno.

Iyah berharap semoga presiden nanti siapapun punya willingness untuk melakukan perubahan ya.

Pemilu? Bye bye... Kelewatan daftar, cuma ada kesempatan sehari pas orang KBRI di Namibia lagi berkunjung ke sini, tapi pas sy lagi gak ada transport. Buyar deh rencana nyontreng. Semoga pas pilpres ntar gak kelewatan lagi. Christin nyontreng?
April 14, 2009 | Unregistered Commenternadia febina
nyontreng dong. ada kok di postingan blog :D gapapalah kalo ga nyontreng, tapi tetep berharap negara kita berubah jadi lebih baik. *amin*
April 14, 2009 | Unregistered Commenterchristin
@christin:
wah iya selalu, tetap cinta negara ituh kok.. :) semoga pilpres ntar sy gak kelewatan yah. Soalnya di sini kan gembar gembor kurang, jadi sibuk2 tiba2 kelewat.. *pdhl gw aja yg dudul hehehehe*
April 15, 2009 | Registered Commenternadia febina
dear nad,
ini link ke web saya. www.indonesian-sky.com atau www.ideaonline.co.id
yg kedua itu tempat saya bekerja.
April 24, 2009 | Unregistered Commenterflankie90210
Butuh keseriusan politik (political will) dan desakan dari mekanisme pada level grass root agar wacanan ini tidak hanya sekedar wacana.. percaya kok, kita mampu, asal engineernya didukung, dibekali cukup dan ditunjang kebutuhannya - jamin, rasa nasionalisme kita masih kentara nyaring untk membangun semua independensi di berbagai sektor..

Saya agak ngeri dan sepatutnya semua mulai ambil ancang2 akan rakusnya energi negara tirai bambu itu yang sudah terasa benar merangsek masuk sampai ke pedalaman afrika sini untuk berburu konsesi pertambangan minyak dan sektor energi lainnya..
April 29, 2009 | Unregistered CommenterLuigi
@flankie90210:
thanks ya, udah sy subscribe di bloglines.

@Luigi:
iyah kang, keseriusan politik itu udah muncul perlahan2 mungkin ya. Dan memang penting utk menjamini kebutuhan2 engineer dan staf2 ahli itu supaya gak hengkang keluar melulu.

Negara tirai bambu di sini juga luar biasa, katanya mereka bayar minyak yg mereka beli dari sini bukan pake uang tapi pake pembangunan proyek2 gedung dan highways. Makanya jadi banyak bener penduduknya yg migrasi ke sini. Hebat ya mereka, dimana bangsa US dan yurop incer pasar asia, mereka langsung lompat, tujuan: AFRIKA. Tanah yang masih jauuh di belakang tapi mulai berpotensi.
May 1, 2009 | Registered Commenternadia febina

PostPost a New Comment

Enter your information below to add a new comment.

My response is on my own website »
Author Email (optional):
Author URL (optional):
Post:
 
All HTML will be escaped. Hyperlinks will be created for URLs automatically.