Balada Kelapa
Sat, January 31, 2009 at 11:03AM Kejadian yang baru saya alami kemarin semakin membuktikan teori saya bahwa logika itu relatif!
image courtesy of www.dreamstime.comDi depan kompleks kami ada dua buah pohon kelapa yang sudah tua dan tinggiiii sekali. Kalau manusia, dua pohon ini ibarat orang yang sudah banyak makan asam garam. Sudah melewati jaman wabah kolera, malaria, jaman perang, dan lain-lain, belum lagi kebiasaan orang di Angola sini yang suka "nijar na rua" alias "pipis (nijar) di jalan (na rua)" dimana tanah tempat dua pohon ini menjejakkan akarnya pastinya sering menjadi wadah penampungan si nijar itu. Walaupun sudah melewati semua itu, dua pohon ini tetap berdiri dengan tegaknya melindungi yang di bawahnya dari sinar matahari yang menyorot terik.
Buahnya pun ranum. Tinggal tunggu petik. Atau tunggu jatuh.
Suatu hari kami mendapat surat dari bagian pemeliharaan kompleks. Surat pemberitahuan bahwa akan dilaksanakan suatu pekerjaan yang penting, yaitu memetik buah kelapa di dua pohon itu, dengan alasan demi keselamatan penghuni. Maksudnya kalau buah kelapanya jatuh, takut ada yang tertimpuk. Dianggap sebagai pekerjaan yang lumayan besar, karena pohonnya cukup tinggi, sehingga diperlukan perencanaan yang cukup matang (halah! tapi suer, begitu isi suratnya) dan karena itu penghuni patut tahu dan waspada. Setelah itu surat-menyurat tentang pemberitahuan ini terus dilakukan secara berkala. Supaya penghuni inget terus.
Pada hari H nya, diedarkan surat terakhir bahwa pekerjaan memetik buah kelapa akan dilaksanakan siang itu. Memohon penghuni untuk tidak melewati daerah pekarangan depan pada jam tersebut. Hm, tidak masalah, karena kami toh di kantor.
Pulang dari kantor, penasaran akan hasil kehebohan surat-menyurat tentang pemetikan kelapa, kami pun ngecek apakah banyak hasil petikan kelapa nya, kali-kali kita kebagian kan..! :) Di depan pekarangan, ternyata memang sudah tidak ada kelapa-kelapa yang ranum itu..... termasuk pohonnya juga ikutan raib, tergeletak panjang mendatar di lahan pekarangan!! Pohon-pohon tua yang sudah melewati banyak asam garam kehidupan itu dibiarkan tergeletak secara paksa hanya karena satu kesalahannya: berbuah. Aduh!
Pas dikonfirmasi kayaknya mereka bingung kenapa kok kita sewot. Menurut mereka, "pekerjaan itu kan sudah dikomunikasikan, bahwa akan diadakan pemetikan buah kelapa, karena tinggi ya kan perlu ditebang, masak situ gitu aja gak tau..." Lhah?? bingung ini mau ketawa apa mau marah apa mau sedih... Duuuh, mas, ngobrol dong... tau gitu kan kita coba impor monyet-monyet dari Indonesia yang tukang petik itu (eh, begitu kan caranya metik kelapa di Indonesia? pake monyet?).
Ini apa ya namanya... Beda budaya? Beda logika? Salah kaprak? Salah kelapa? Salah-salahan?



Reader Comments (13)
salam kenal..
kirain di sana padang pasir melulu. ternyata tidak.
kalau aku di Indon tinggalnya di hutan n sungai melulu.
terima kasih kunjungan dan komennya.. iya selain itu juga bisa tuh dimasukkan ke angolana ensiklopedia... hehehe
@stainly:
samarinda ya? iya saya dulu waktu tugas di bontang sering bolak-balik ke situ lhoo... :)
iyaah, persis ndoro! kurang lebih gitu lah, hekekek, cuma ngenes nih sampe harus mengorbankan 2 pohon huhuhuhu....
hahah, iya ya kalo dipikir2 sebenernya lucu ya, p pas nyaksiin si pohon kelapa itu terbujur kaku sih sedih juga loh, perasaan lumayan tertusuk-tusuk.. halah.
senang sekali baca blog kamu.
thanks for sharing your experiences.
i like them.
makasih ya buat berkunjung.. sering2 yaa! :D
lhoh? situ bukan.. monyet.., kan?
ini tinggi lho!!
kekekekekekek.. :P
Ha ha ha .. senengnya baca postingan ini.
oh ada ya di indonesia yang begitu?? hahaha, baru tau, kirain pake monyet aja! :D