« Nongol Lagi | Main | Hanya Terjadi di Angola »
Friday
May232008

Belajar Dari Seorang Teman di Angola

Seperti yang ditulis di Pralangga.Org: Our Peackeeping Journey

Salah satu dari banyak hal yang saya syukuri berada di Angola adalah kesempatan untuk berteman dengan teman-teman dari Angola. Mereka sangat terbuka dan ramah, kadang membuat saya lupa dibalik senyumnya yang lebar dan manis itu, mereka-mereka ini adalah orang-orang yang pernah melalui perang panjang selama kurang lebih 15 tahun yang baru berakhir 5 tahun yang lalu.

Seperti hari ini saya berkesempatan ngobrol-ngobrol lumayan panjang dengan seorang kawan. Sebenernya saya nggak begitu sering ngobrol dengan dia tapi karena hari ini kita kebagian menunggu sesuatu untuk waktu yang lumayan lama di sebuah ruang tunggu, jadilah pembicaraan terjadi dari A sampai Z. Entah gimana asal mulanya, kami bercerita tentang latar belakang pendidikan masing-masing, maklumlah namanya juga pembicaraan basa-basi.

“Kami dari kecil harus belajar sembari ngumpet-ngumpet.. Takut-takut kalau ada polisi”, katanya.
“Lhoh memangnya kenapa kalau ada polisi?”
“Iya tahun2 itu (akhir ’90-an ke thn 2000), kan setiap anak muda laki-laki umur 18-35 tahun harus jadi tentara mbak, untuk ngebantu perang sama pemerintah. Kalau keliatan di jalan bisa ditangkep trus langsung dibawa ke camp.”
“Trus?? Bilang dulu nggak ke orangtua kalau mau pergi perang?”
“Ya enggak.. Mana dikasih kesempatan kalau udah ditangkep begitu. Ada juga temen saya dulu yang setelah 5 tahun baru bisa kembali ke rumahnya dan selama itu keluarga nya nggak tau kalau dia masih hidup apa enggak.”
“Oooo gitu yaa….”, mendengarnya agak tersekat juga tenggorokan saya rasanya, sedih.

Tapi saya nyambungin juga.

“Jadi mas ini waktu jaman-jaman itu berhasil ngumpet yah dari polisi?”
Dia nyengir, “heheee… iyaaah, saya nggak mau mba. Keluarga saya, kakak adik saya dan sepupu-sepupu saya nggak ada yang mau berperang. Kita semua berhasil ngabur. Hehe.”
“Iya yaaa.. Perang jahat”, saya udah nggak tau mau ngomong apa lagi saking bingungnya.
“Iya memang jahat. Sebenarnya saya kehilangan Bapak saya dan saudara laki-laki saya yang meninggal ketika perang itu.”
“oh… sorry to hear that.” Saya semakin sedih.Ga nyangka selama ini seorang teman punya cerita seperti ini, seperti di film-film.
Dia tersenyum. “Nggak papa mba, I learn that people needs to feel powerful. That’s all what people are looking for, to win, to be and to feel more powerful amongst other people”, katanya masih sambil tersenyum. Saya cari-cari nada kemarahan di dalam suaranya ketika dia berbicara, saya gagal. Tidak ada kemarahan di situ. Hanya ada senyum ramah dengan gigi putih yang indah berkilau. Pastilah dia salah satu dari segilintir orang-orang yang diberkahi yang sudah bisa menerima apa yang namanya takdir dari Illahi.

Mendengar cerita seperti ini sebegitu dekat, rasanya seperti tak percaya ketika nengok balik ke kondisi saya sendiri.. Apa saja yang saya keluhkan, nafsu berkompetisi yang menyamar sebagai “keinginan untuk maju”, atau apa pun itu yang membuat kita menjadi stress yang tidak perlu, rasanya seperti sangat tidak berarti dan sangat insignifikan. Bandingkan dengan yang harus dialami oleh teman-teman ini. Yang pernah mengalami hidup di jaman perang. Dan lolos dari situ. Mengambil pelajaran dari situ. Menerima. Dan tersenyum lagi.

“Mas katanya tadi sekolahnya putus karena perang. Hebat yah, bisa diterima di perusahaan multinasional begini, trus bahasa Inggris cas cis cus. Siapa yang ngajarin?”
“Ooh, hehehe.. Masa sih, masa bagus bahasa Inggris saya.. Saya cuma belajar sendiri kok dari buku, latihan baca-baca majalah dalam bahasa Inggris dan dengerin lagu-lagu. Lumayan loh, lagu-lagu bisa bikin belajar”

Malu saya rasanya. Malu kalau suka mengeluh. Malu suka take things for granted.
Oalaahh.. Rasanya seperti kepala saya lagi dikeplak sama Tuhan nih… Doeeeeeeennnnngggg…!!

Dan sehabis pembicaraan itu, saya pun harus kembali kerja RODI di kantor (oops, mengeluh lagi!). Dan ini lucu. Kebetulan saja tiba-tiba di ruangan saya ada seorang kolega paruh baya (bukan dari angola) teriak-teriak marah-marah dengan suara yang menggelegar karena seseorang lupa memasukkan sebaris komen di dalam laporan harian. Seakan dunia akan runtuh tanpa komen itu dan tidak masalah yang lebih berarti lagi di muka dunia ini selain si komen yang kelewat dalam laporan harian itu… :)

PrintView Printer Friendly Version

Reader Comments (2)

duh, ikutan ngerasa dikeplak Tuhan...

May 28, 2008 | Unregistered Commenterniftira
drop acid, not bombs :)
May 28, 2008 | Unregistered Commenterbapur

PostPost a New Comment

Enter your information below to add a new comment.

My response is on my own website »
Author Email (optional):
Author URL (optional):
Post:
 
All HTML will be escaped. Hyperlinks will be created for URLs automatically.