« Belajar Dari Seorang Teman di Angola | Main | Balas Dendam Tetangga »
Thursday
Apr102008

Hanya Terjadi di Angola

Seperti yang ditulis di Pralangga.Org: Our Peacekeeping Journey

Cuplikan percakapan dari film Blood Diamond:

"T.I.A", kata Leonardo Di Caprio.

"T.I.A?", tanya si cantik Jennifer Connely.

"This Is Africa"

Sembari mesem-mesem si nadiyem yang lagi nonton DVD Blood Diamond di rumah bergumam: "T.I.A bisa juga This Is Angola, yak. Kan sama-sama A."

Sebelumnya saya minta maaf karena postingan ini sejatinya adalah sebuah curhatan akbar. Memang biarpun saya sudah mulai terbiasa dengan hal-hal yang normal bagi orang biasa tapi adalah sebuah kemewahan kalau di Angola, tapi tetep aja ada kejadian-kejadian yang bawaannya bikin mangkel. Bagi kita aneh, bagi mereka normal. Bagi kita normal, bagi mereka aneh. Begitulah suka duka hidup di sini. Kadang mulai meragukan yang namanya fakta, logika dan rasio, kalau bisa dibalik-balik begini, berarti tidak bersifat absolut ya? *maap, melenceng! hehe*

Jadi begini ceritanya.

Yang namanya di Angola, birokrasi itu seratus kali lebih rumit daripada di Indonesia. Aseli. Jadi temans, kalo mau ngomel sama birokrasi di Indonesia yang memakan waktu lama hanya untuk ngurus ini itu, mendingan ditunda dulu ngomelnya, ingat temanmu ini yang tinggal di Angola ini yaa, hehe. *lhah melenceng lagi* Oke, back to topic . Nnah dengan birokrasi yang panjang itu, semua rencana ke luar dari Angola tentunya harus dipikirkan masak-masak. Singkat cerita, untuk sekedar mencari penyegaran dan charge battere buat sepuluh hari berlibur ke negara tetangga, Namibia, persiapan pun harus dilakukan dari 2 bulan sebelumnya. Ini karena pesawat dari dan ke Angola itu sedikit, jadilah harus rebutan. Untungnya setelah ngotot-ngototan dengan travel agent yang bawelnya setengah mati, akhirnya ticket dan visa pun ada di tangan...setelah 2 bulan. Walaupun mesennya terbang dengan namibian airline, tapi karena faktor rebutan itulah dapetnya pesawat dari airline nasional angola. Agak ketar-ketir memang, tapi dipikir-pikir nggak pa-pa deh kan harus nyoba juga setidaknya sekali, iya gak?

Pada hari H nya kita harus berangkat, seneng banget dong tentunya. We were soo looking forward ! Pesawat berangkat jam 11.00, kita harus udah ada di depan counter check-in jam 06.00, dan berangkat dari rumah jam 05.40. Itu berarti wekker menyala jam sekitar 04.30 pagi. Kebayang kan, berangkat siang harus bangun dari subuh. Ini walaupun agak mencengangkan kedengarannya, tapi buat kita-kita yang tinggal di Angola, udah mulai terasa normal. Jadi peraturannya, kalau mau berangkat, harus tiba di airport setidaknya 4 jam sebelum waktu keberangkatan. Dan memang nggak main-main. Biarpun kita datang tepat waktu (-4jam), begitu sampai di sana antriannya panjaaaang banget. Maklum, meja check-in nya cuma satu. Hehe, gila kan.

Setelah dengan setianya ngantri selama kurang lebih 1.5jam, akhirnya sampai juga saya dan Maskyu di depan counter check-in. Setelah menunjukkan ticket kami, si mas nya dengan nada datar bilang, "Mbak nya bisa berangkat, tapi suaminya nggak bisa."

"Haaaa???", kita berdua kaget. "Maksud looo??? gimana-gimana, nggak ngerti"

"Iya, si masnya ga ada di list bookingan kita"

"Lhah, gimana ini udah valid ticket gitu loh. Ini lho mas, ticket nya.. Niiih."

"Iya, tapi ga ada di sistem"

Setelah kita perhatiin, ternyata yang namanya "sistem" adalah secarik kertas bertulisan tangan yang isinya list penumpang-penumpang hari itu. Nggak ada komputer. Hanya secarik kertas yang nanti dicoret nama dan nomernya kalau si penumpang udah check-in. Seperti to-do-list saya sehari-hari!

"Coba tunggu aja di pinggir situ, nama suaminya saya masukin waiting list. Kalau ada penumpang yang cancel baru kamu bisa naik. Jadi tunggu aja", kata si masnya dengan nada penuh otoritas. Rupanya dia mulai nggak sabaran.

Enak aja, dibegituin mulai habislah kesabaran saya & Maskyu, "Lhah gimana tho mas, saya kan udah bayar, ini buktinya." Saya ngotot dung.

"Ya tapi namanya nggak ada di list ini, gimana mau saya masukin ke pesawat?"

"Lhoh, orang pake tulisan tangan begitu, paling kolega situ yang lupa ga masukin ke kertas. Atau jangan-jangan situ kali yang lupa.. hayyo??! Ayolah Mas, yang bener aja, ini kan bukan salah kita, masa jadi di waiting list"

"Lha iya, ini juga bukan salah saya. Kalau nama situ ga ada ya berarti ga ada. Titik."

Nnah lo. Bingung. Inilah namanya logika dibalik-balik. Speechless in seattle , kita udah ga ngerti mau ngomong apa lagi. Akhirnya kita mengalah dan pergilah kita ke pojokan "waiting list". Oh iya perlu digarisbawahi bahwa percakapan di atas berlangsung dengan bahasa inggris dicampur bahasa portugis karena si masnya nggak fasih bahasa inggris, dan saya & Maskyu juga cuma bisa ngomong bahasa portugis seipirt. Jadi ngebayang dong, hahaha.

Ternyata di pojokan itu setidaknya ada 4 korban lainnya. Jadilah kita korban-korban ini bercurhat-curhatan sejenak. Usut punya usut, ternyata kejadian seperti itu bukan hal yang aneh. Jadi.. ternyata memang benar. Sistemnya adalah: ada seseorang di airline ini yg tugas dan kerjanya kumpul-kumpulin dan mencatat satu-satu nama-nama penumpang untuk flight ini atau itu. TANPA JASA KOMPUTER. Yaa, wajar sekali lah kalo si orang ini lagi siwer nama si penumpang jadi tidak terdaftar! Yang lebih dagelan lagi, biarpun udah ada ticket di tangan yang disertai bukti pembayaran, yang lebih dipercaya adalah si daftar siwer ini. Hahaha, berarti bener kaan judulnya: HANYA DI ANGOLA! :)

Walaupun akhir cerita nya adalah happy ending, yaitu masih ada tempat yang kosong untuk si Maskyu dan akhirnya alhamdulillah kita berangkat berlibur, tak urung kejadian seperti ini agak menimbulkan trauma kecil. Jadi sempet berikrar, kalau nggak terpaksa-terpaksa banget, mungkin itu terakhir kalinya naik airline nya mereka lagi. Secara rencana kami adalah yang terakhir kalinya terbang dengan si airline ini, tentunya nggak lupa dong jepret-jepret sebelum take-off, hehe. Teuteuuup. Kekekek. Tapi manyuuun, abis sebeeellll!!

TAAG.jpg

 

AddThis Social Bookmark Button

PrintView Printer Friendly Version

Reader Comments (7)

gila.. dunia analog..
April 11, 2008 | Unregistered Commenterbapur
weh...disini juga ada postingannya juga tho, kirain cuman di pralangga.org :p
btw, ndak papa ribet2 perjalanannya mbak, yang penting bisa dijadiin bahan postingan, apalagi udah ada potonya, hehehe... :p
April 12, 2008 | Unregistered Commenteranton ashardi
@bapur:
analog dan manual, makssudnya ya?

@anton ashardi:
iya memang foto itu penting, hehehe....
April 14, 2008 | Unregistered Commenternadia febina
astapiluloh... *ngecek peta dulu. Angola itu dipedalaman mana*

aku pikir indonesia udah buruk banget... eh ternyata ada yang lebih buruk...

apa perlu airlines itu ditraining pengenalan komputer?
April 15, 2008 | Unregistered Commenteriphan
Baca postinganmu, aku seperti ada di sampingmu, merasakan bagaimana 'ndeso'nya costumer service di check in counter-nya Angola. Yang kusuka bukan problemmu saat itu (ribet), tapi bagaimana kemampuanmu mendeskripsikan tragedi itu. Akan lebih asyik lagi jika ada deskripsi bagaimana tampilan fisik petugas dan tempat dia melayanimu.

Yang pasti, masih ada rumput tetangga yang sama jeleknya dengan rumput di halaman sendiri. Makanya, rendah hati saja. Sama-sama ribet birokrasinnya.

Tabik!
April 15, 2008 | Unregistered CommenterZul ..
iyaa mbak nadia! gila musti dikenalin ke komputer tu orang-orang..
April 16, 2008 | Unregistered Commenterbapur
Hi Mbak Nadia,

Kebetulan dapat blognya mbak pas lag browsing di internet. Very interesting blog. Suamiku dapat tawaran kerja di Luanda, bisa tolong kasih informasi tentang Angola, kehidupan sehari-harinya, aman nggak sih. I read that Angola is the most expensive country in Africa. Bener nggak sih?
April 30, 2008 | Unregistered CommenterAnna

PostPost a New Comment

Enter your information below to add a new comment.

My response is on my own website »
Author Email (optional):
Author URL (optional):
Post:
 
All HTML will be escaped. Hyperlinks will be created for URLs automatically.