Search This Site
Twitter
    TwitterCounter for @nadiafebina
    Powered by Squarespace
    Blogger Indonesia Display Pagerank Personal Blogs - Blog Catalog Blog Directory aroengbinangfs8

    Blog Add to Technorati Favorites
    ShoutMix chat widget
    Wednesday
    Mar312010

    Tips Bahagia Hidup di Angola

    Seperti yang ditulis di pralangga.org.

    Setelah posting menye-menye sebelum ini tentang tinggalnya saya di Angola yang tidak akan lama lagi, mungkin ada baiknya saat ini kita putar balikkan_ menye-menye_ itu dengan hal yang lebih berguna. Misalnya, hal-hal apa yang bisa kita pelajari dari budaya kawan-kawan di Angola sini?.

    Hari ini saya mendapat kesempatan berbicara dengan dua orang tamu berasal dari sebuah negara di benua Eropa dan baru pertama kali mengunjungi negara ini. Setengah basi-basi, saya tanya bagaimana pesawat semalam apakah membuat mereka letih dan apakah ketika mendarat pertama kali di Angola mengalami shock-shock tertentu dari apa yang terlihat. Keduanya menjawab bahwa mereka expect sesuatu yang sangat parah tapi ternyata tidak seperti separah itu. “Saya tau karena apa”, ujar salah satu bapak itu, “karena begitu mendarat kami disambut orang-orang yang tersenyum. Bukan senyum yang dibuat-buat tapi yang tersenyum dari matanya. It gives me warm feeling.” Memang pendapat mereka kedengaran agak sok tahu dan berteori tapi saya akui dan saya ingat-ingat memang kayaknya itu juga yang saya rasakan ketika pertama kali menginjak negara ini.

    Saat itu saya masih seorang yang bisa dibilang gagap budaya karena walaupun saya termasuk salah satu yang beruntung suka diajak liburan kesana-kemari dan bekerja di perusahaan multinasional, namun untuk benar-benar menetap selama di suatu negara di luar benua Asia, saat itu saya belum punya pengalaman. Untuk teman-teman yang sudah saya kenal lewat blog dari pertama kali blog ini dibuat, mungkin pada tau bahwa sebelum dikirim ke Angola, saya ditempatkan sementara selama 7 bulan di negara Inggris. Saat itu, mungkin karena suhu yang dingin dan banyak hujan, atau karena budaya individualis masyarakat sana, terus terang saya merasa kurang pas berada di situ. Karakter saya yang suka ngobrol sana-sini dan berteman dengan orang baru yang banyak, kurang pas dengan kehidupan kota London yang semuanya serba convenient sehingga interaksi dengan sesama manusia kurang begitu penting.

    Saya akui saya tidak melulu menderita berada di London, karena kotanya sendiri sangatlah lively. Tapi terus terang saya juga akui, ada something is missing, ibarat makanan saat itu atmosphere berasa hambar, perlu bumbu sedikit tapi entah bumbu yang mana.

    Pertama kali menginjakan kaki di bumi Angola tiga tahun lalu, saya kaget bukan kepalang dengan airportnya yang eng-ing-eng. Bukan petugas imigrasi yang pertama kali menyambut kita, tapi sepasukan nyamuk-nyamuk yang gesit. Dan siapa bilang nyamuk-nyamuk ini menyambut di gedung airportnya?. Bukan, mereka sudah menyambut di bus besar yang mengangkut penumpang dari pesawat ke gedung airport (di sini tidak ada belalai gajah). Dicampur dengan peringatan-peringatan tentang bahaya malaria yang bertipe mematikan di Angola, berdiri di bus selama 10 menit dikelilingi sepasukan nyamuk ini memang cukup membuat sport jantung.

    Airportnya sendiri, saat tiga tahun lalu masih berbentuk airport lama yang belum direnovasi sejak jaman penjajahan portugis (saat ini airport nya sudah jauh berbeda bentuknya sejak diadakan CAN2010 January lalu). Selain tidak ber-AC, dimana-mana bisa tercium semriwing bau WC karena WC nya tepat berada di depan hall imigrasi dan tercium juga bau yang lain yaitu bau: ehmbawang.

    Bandara diLuanda Bandara diLuanda5

    Bandara diLuanda4 Bandara diLuanda2

    Mungkin hasil dari tidak ada AC sehingga tumbuhlah semerbak bau bawang menusuk itu di ruangan. Petugas imigrasinya pun jauh dari ramah. Lengkaplah sudah pengalaman “eng-ing-eng” hari pertama ini.

    Untungnya pengalaman selanjutnya yang saya temui begitu sampai di depan hotel menginap agak berbeda. Agak trauma dengan pengalaman di airport, saya yang selalu mengakunya pemberani ini jadi berjalan agak menunduk takut digongong lagi oleh pengalaman-pengalaman aneh dan orang-orang muka galak. Untungnya saya punya kebiasaan cengengesan dan masa bodoh. Disambut oleh satpam dengan muka galak, refleks saya senyum dan menyapa dengan bekal bahasa portugis pas-pasan hasil kursus selama 6 kali 1 jam di London: “Bom Dia! Como esta?” (Selamat pagi! Apa kabar?).

    Terbiasa dengan suasana London yang kalau saya menyapa, “Good morning everybody!” di kantor tapi tidak ada yang menyahut, kali ini saya pun tidak mengharap sapaan balik dari bapak satpam hotel angola. Yang penting kita beramah-tamah, urusan dia gak ramah sih salah dia sendiri, iya nggak?.

    Tapi siapa sangka, si bapak satpam dengan muka garang itu langsung malah langsung tersenyum lebar bar-bar-bar ala kebapakan (memang bapak-bapak sih) dan menyapa balik dengan antusias: “Tudo bem! Eeeh, voce fala portugues? E chinesa?” (kabar baik! Loh, situ ngomong portugis? Orang cina ya?).

    Cina? Ya, sudahlah.. (Belakangan saya tahu bahwa segala bentuk muka berbau Asia, dibilang dari negara Cina, tidak peduli saya hitam-keling-sawo-busuk begini, menurut mereka sama saja. Jadi Ge-eR deh, ihik). Dan kami pun ngobrol sekitar setengah menit sebelum saya benar-benar masuk. Senang, ternyata si bapak tidak galak!.

    Begitu saya memulai bekerja di kantor, saya memakai taktik yang sama dengan taktik di setiap kantor baru: SKSD: Sok Kenal Sok Dekat. Sapa sana sapa sini. Belagak-belagak bisa ngomong portugis biarpun cuma sebatas bom dia dan como esta. Berbeda dengan pengalaman di London, ternyata tanggapan dari teman-teman di kantor Luanda sini sungguhlah luar biasa. Mereka bukan hanya membalas segala sapaan itu, tapi langsung mengajak makan siang bersama, dan mulai membuka diri cerita-cerita dari masalah non-pribadi sampai cukup pribadi.

    Baru beberapa minggu saya tiba di negara ini, saya sudah bisa bertemu dengan banyak teman baru. Rata-rata memang kolega tapi pertemanan kami dibawa sampai di luar kantor. Di sinilah saya merasa pas, akhirnya bakat cengengesan dan suka rumpi yang terpendam selama tujuh bulan kemarin itu terpuaskan sudah.

    Hanya dengan cara memulai hari pertama dengan senyum. Mudah sekali..!

    Di tempat umum pun begitu. Terus terang memang, untuk kita yang datang dari Indonesia, tampilan orang-orang sini memang menyeramkan, khususnya yang laki-laki. Sekarang saya di sini sudah 3 tahun, jadi sudah bisa membedakan mana yang bandidos (berandalan/ preman), mana yang orang biasa saja. Tapi ketika dulu baru sampai, semua orang di jalan rasanya seperti muka preman semua. Pernah saya ngobrol bersama teman yang sama-sama dari Asia (males ah, sebut negaranya) dan mereka bilang suka sebal sama orang sini yang kata mereka sombong-sombong dan tidak pernah menegur. Bawaannya melototin dari atas sampai bawah saja.

    Memang ini benar, entah kenapa mereka kalau baru bertemu selalu melotot dulu bawaannya, beda dengan orang Indonesia yang hobby basa-basi (termasuk, contohnya saya) dan dari jauh saja sudah kelihatan senyum dan giginya. Tapi pengalaman saya dan Maskyu, begitu mereka melotot, kalau kita selalu sambut dengan cengiran manis dan bilang Bom Dia atau Boa Tarde (selamat siang) atau Boa Noite (selamat malam), langsung biasanya dibalas dengan tawa lebar yang memenuhi mukanya dan memamerkan gigi-gigi yang putih kinclong.

    Ternyata yaaa..! Eh tapi sedikit tips buat yang berencana mengunjungi Angola: Jangan meremehkan preman-preman yang ada di jalanan ya.. Biarpun mereka rata-rata masih muda, tapi rata-rata mereka pernah mengalami tahun-tahun ketika jaman perang 7-8 tahun yang lalu. Jadi kita tidak tahu apa saja yang pernah mereka lihat dan lewati semasa hidupnya, yang jelas saya masih suka mendengar suara-suara bang bang dor dor dor di tengah malam karena senjata tangan masih beredar luas di jalanan. Jadi, tetap hati-hati!

     Kembali ke soal ramah-tamah dan senyam-senyum, lucunya saya perhatikan, orang-orang dari kantor Inggris yang dulu hobby nggak nyahut itu kalau dibilang “Good Morning” , begitu mereka visit Angola sebentar saja, jadi ketularan super duper ramah dan keliatan gilanya. Setiap pagi sampai di kantor selalu menyapa semua orang di ruangan dengan bilang Bom Dia keras-keras. Lohh, kok.. Jadiiii.. berarti selama ini apa yaa???? :) Sering saya godain mereka, bilang kalau kebiasaannya jadi berbeda, mereka mengakui memang kalau kebiasaan berinteraksi dengan sesama ini menular.

    Sering saya dikomentari sama kawan-kawan ekspat di sini atau kawan-kawan di kampung halaman: Kenapa sih suka banget tinggal di negara yang nggak enak ini, mana orangnya galak-galak pula. Dengan merendah saya cuma bisa bilang hanya satu rahasianya: Ya senyum dong.

    Secara kebudayaan, Angolans adalah pribadi-pribadi yang ramah dan suka berkawan. Yang harus kita lakukan hanyalah membuka diri.. ya yang paling mudah adalah dengan cara tersenyum itu. Hitung-hitung hati jadi gembira dan teman pun tambah banyak. Benar sekali kalau ada pepatah yang mengatakan: tersenyumlah dan dunia pun tersenyum bersamamu.

    Sudahkah anda tersenyum hari ini? :)

    Note: Beberapa images diambil dari beberapa sumber dan adalah hak cipta masing-masing pemilik.

    Thursday
    Feb042010

    Mengaku Saja

    Saya sudah mulai gila.
    Tidak lama lagi saat itu akan tiba.
    Mulailah menghitung hari-hari terakhir di Angola.
    Sebentar lagi tidak  bisa dengar kicauan kizomba di radio.
    Atau berdansa sampai loyo tanpa ada yang perduli.
    Atau kebebasan memakai pakaian apa pun tanpa ada yang menghakimi.
    Atau pantai yang dekat dari rumah.
    Atau teman-teman yang ramah dan selalu siap saling membantu.
    Ah saya benci perpisahan.

    Apa ini berarti saya terlalu senang  di sini?
    Di sini? Di tempat yang apa-apa mahal, dan mencari makanan enak susah sekali?
    Yang internet nya super lambat?
    Yang tidak punya pusat perbelanjaan yang megah?
    Yang mau pulang kampung saja harus dua hari perjalanan transit sini situ?
    Ah, masak sih..

    Apa ini berarti saya tidak siap lagi memasuki balik dunia normal?
    Ke dunia yang gampang beli baju dan beli make up
    Dua hal kesukaan saya..
    atau gampang mencari Starbucks di setiap pengkolan jalan
    atau gampang mencari Big Mac dan iMac kapanpun kita mau
    Asal punya uang
    Dan semuanya serba gampang.

    Mungkinkah benar kata orang-orang bijak
    Manusia itu candu akan masalah dan tantangan
    Karena kegampangan itu tidak menarik
    benarkah ini?
    Ah masak sih..

    Yang ada di kepala saya saat ini
    Saya takut kesederhanaan yang nikmat ini akan terambil lagi
    Tidak mau seperti saat-saat dulu
    Ketika saya hidup di dunia normal
    Ketika semua fasilitas serba mudah
    Dan menimbulkan keinginan-keinginan yang membuncah
    Mendominasi akal dan menutup hati nurani
    Saat-saat dulu ketika di tengah kegampangan pun hanya terlihat kesusahan
    Karena terlalu terbiasa

    Ya, saya takut
    Saya takut saya hanya melulu melihat diri sendiri
    Seperti dahulu
    Ketika mata selalu tertutup dan tidak mampu melihat realita dari lain sisi
    Karena terlalu terbiasa

    Ah saya terperangkap lagi di sini
    Di kekacauan akal yang berusaha mendefinisi segala sesuatu
    Saya harus berhenti sekarang dan mengaku sajalah:
    Saya benci perpisahan.

    Tuesday
    Jun302009

    Cerita Pindah Rumah Bersama Tom & Jerry

    Selama ini saya rasa teman-teman dekat keluarga dan teman-teman blogging sudah buosan buanget denger cerita tentang tetangga disco outdoor di sebelah rumah yang bikin saya tidak bisa tidur setiap weekend. Nadia ini udah jarang ngapdet, begitu ngapdet ceritanya tetangaaa melulu. Nnah... Belakangan ini mereka semakin menggila. Rutin berpesta setiap hari Rabu malam, Jumat, Sabtu dan Minggu malam. Segala daya upaya untuk menyadarkan si pemilik rumah untuk tidak membisniskan rumahnya untuk dijadikan disko sudah dilakukan, tapi tidak mempan. Melihat tamu-tamu yang datang ke tempat pesta itu, dengan mobil sejajaran kelas BMW X5, rasanya hampir tidak mungkin untuk membuat mereka mengerti untuk tidak meneruskan bisnisnya dan memikirkan orang lain.  *ingat jaman orba?* Saya sebenarnya sudah merekam salah satu pesta heboh mereka di videocam sekadar untuk kenang-kenangan kali-kali kangen dengan pemandangan pesta mereka yang lengkap dengan lampu kerlap-kerlip dan asap panggung ala Aneka Ria Safari. Tapi saya masih ragu-ragu untuk memasang di blog, ntar terjerat pasal-pasal dan undang-undang yang saya kurang mengerti, wah berabe!

    Luanda ini adalah sebuah kota yang di-design untuk 400.000 orang, tapi saat ini penduduknya membengkak sebanyak 4-5 juta orang. Bisa dibayangkan betapa susahnya cari rumah di sini. Harganya jangan dikira (untungnya untuk kami2 yang dikirim ini semuanya dijamin oleh kantor), tapi pun kalau mampu membayar, belum tentu ada stock rumah kosong. Jadi untuk saga si tetangga disco ini, demi supaya bisa tidur dan istirahat pada waktu yang seharusnya istirahat, kami sudah memohon-mohon untuk pindah, kantor pun sudah menyanggupi akan mensponsor.. dengan catatan, kalau ada rumah kosong di manapun, di kota. Menunggu sebulan, menjadi setengah tahun,satu tahun,.. rasanya seperti forever.. Tapi, siapa sangka setelah satu setengah tahun, akhirnya Tuhan mendengar doa ratapan kami.. Yay!! :)

    Resmi minggu lalu, saya dan Maskyu pindah rumah. Letaknya pas di depan Baia de Luanda, terletak di lantai 14. Jujur saja, dari atas sini bisa lupa kalau sedang di Luanda yang jalan-jalannya becek bau dan kotor itu. Dari atas, semuanya kelihatan indah dan romantis! Haha. Belum lagi pas di seberang ada gedung baru yang dibuat oleh kontraktor cina dan berwarna gold. Konon konstruksi gedung ini memakan waktu hanya dalam hitungan bulan. Tapi bukan itu yang membuat kami senang dengan gedung emas ini. Ternyata, setiap malam di sepanjang sisi gedung setinggi kurang lebih 30-an lantai ini diputar film Tom & Jerry gede-gede, bouuwww! Film bisu, tapi warna-warni begituu... hahahha.  Layarnya ya sepanjang gedung itu. Guede! Lumayan kan, sebelum tidur longok jendela, nonton film dulu hyuuuk.. hihihihihi.. :) *tomcat tomcat woof woof*

    Akhir minggu kemaren ini baru merasakan ternyata enak juga yaa, kalau bisa tidur di akhir minggu. Penat dari kantor di hari-hari kerja pun bisa terbayar.. :)

    Ngomong-ngomong soal pindahannya sendiri, kita pakai mover company dari sini dan sejujurnya tadinya saya sudah ancang-ancang nih mau mengamati tingkah-tingkah apa lagi ya, yang kocak-kocak dari mereka. Dulu pengalaman mover company di Inggris cukup bikin nyolot; rasanya saya yang tuan rumah, tapi dia nyuruh-nyuruh saya buatin teh pake ngambek pula karena dosis susu dan gula nya nggak seperti yang dia mau. Ada-ada aja. Makanya, pengen liat, kalo orang Angola yang jadi mover bakalan gimana. Selama 2 tahun di sini kan kurang lebih udah mengenal tingkah-tingkah ada-ada aja (duuh sombong banget sih gue, kaya gue bener aja deu).. Makanya ambil-ambil ancang-ancang kali aja ada yang bisa ditulis di blog, heheheh. Ternyataa.. kerja mereka efisien sekali, bungkus membungkus barang-barang dari yang pecah belah, barang kecil sampai yang besar cepat banget. Target selesai jam 5 sore, tapi jam 2.30 pekerjaan sudah rampung. Belum lagi sopan banget. Hebat! Moral of story: Jangan Suudzon.

    Sekarang tinggal beberapa boks lagi (dikiiiit lagi) yang diunpack. Ntar kalo kamera nya udah ketemu di boks yang mana, saya jepret yah film Tom & Jerry nya. Biar pada ngiri, soalnya mana ada film segede gitu di Jakarta... :P