Thursday
Dec082011

Sementara yang Permanen, Hidup Di Saat Ini

 

 

image from: dreamstime.comIbarat sumur kering di pojokan tanah yang terlantar, blog ini masih ada dan terbuka di pojokan world wide web, kering tanpa isi. Si empunya blog memang punya penyakit kronis yang menjadi musuh terbesar manusia: kemalasan yang berlimpah. Tapi itu hanya salah satu penyebab, dan ini bukan sekadar mencari alasan.

 

Terakhir menyapa di sini, sekitar 1.5 tahun yang lalu, saat itu kami sedang sibuk-sibuknya akan pindah dari Angola menuju Britania Raya. Hanya 6 bulan di sana, diminta pindah lagi ke Singapura untuk temporary stay sekitar 3 bulan, dengan catatan bisa diperpanjang sedikit. Siapa sangka yang namanya "dengan catatan" itu berlangsung terus sampai hampir satu tahun kemudian.

Memang benar, 1-2 tahun belakangan ini saya merasa seperti modern day gypsi, tanpa ikatan pada suatu tanah atau daerah untuk dijadikan tempat tinggal tetap. Sering dikomentari oleh kawan-kawan, enak banget ya hidup lo jalan-jalan terus! Beneran, saya memang bersyukur sekali dapat kesempatan begini, bisa bebas kesana kemari, bekerja, plesir dan bersenang-senang. Dan yang terpenting selalu mendampingi dan didampingi Maskyu juga, kami sebagai keluarga kecil ini. Alhamdulillah, saya selalu menganggap ini sebagai luxury. Tetapi ternyata hidup sebagai "gypsi", walaupun berdua, tidak selamanya penuh dengan pelangi dan kuda terbang.

Click to read more ...

Wednesday
Mar312010

Tips Bahagia Hidup di Angola

Seperti yang ditulis di pralangga.org.

Setelah posting menye-menye sebelum ini tentang tinggalnya saya di Angola yang tidak akan lama lagi, mungkin ada baiknya saat ini kita putar balikkan_ menye-menye_ itu dengan hal yang lebih berguna. Misalnya, hal-hal apa yang bisa kita pelajari dari budaya kawan-kawan di Angola sini?.

Hari ini saya mendapat kesempatan berbicara dengan dua orang tamu berasal dari sebuah negara di benua Eropa dan baru pertama kali mengunjungi negara ini. Setengah basi-basi, saya tanya bagaimana pesawat semalam apakah membuat mereka letih dan apakah ketika mendarat pertama kali di Angola mengalami shock-shock tertentu dari apa yang terlihat. Keduanya menjawab bahwa mereka expect sesuatu yang sangat parah tapi ternyata tidak seperti separah itu. “Saya tau karena apa”, ujar salah satu bapak itu,

Click to read more ...

Thursday
Feb042010

Mengaku Saja

Saya sudah mulai gila.
Tidak lama lagi saat itu akan tiba.
Mulailah menghitung hari-hari terakhir di Angola.
Sebentar lagi tidak  bisa dengar kicauan kizomba di radio.
Atau berdansa sampai loyo tanpa ada yang perduli.
Atau kebebasan memakai pakaian apa pun tanpa ada yang menghakimi.
Atau pantai yang dekat dari rumah.
Atau teman-teman yang ramah dan selalu siap saling membantu.
Ah saya benci perpisahan.

Apa ini berarti saya terlalu senang  di sini?
Di sini? Di tempat yang apa-apa mahal, dan mencari makanan enak susah sekali?
Yang internet nya super lambat?
Yang tidak punya pusat perbelanjaan yang megah?
Yang mau pulang kampung saja harus dua hari perjalanan transit sini situ?
Ah, masak sih..

Apa ini berarti saya tidak siap lagi memasuki balik dunia normal?
Ke dunia yang gampang beli baju dan beli make up
Dua hal kesukaan saya..
atau gampang mencari Starbucks di setiap pengkolan jalan
atau gampang mencari Big Mac dan iMac kapanpun kita mau
Asal punya uang
Dan semuanya serba gampang.

Mungkinkah benar kata orang-orang bijak
Manusia itu candu akan masalah dan tantangan
Karena kegampangan itu tidak menarik
benarkah ini?
Ah masak sih..

Yang ada di kepala saya saat ini
Saya takut kesederhanaan yang nikmat ini akan terambil lagi
Tidak mau seperti saat-saat dulu
Ketika saya hidup di dunia normal
Ketika semua fasilitas serba mudah
Dan menimbulkan keinginan-keinginan yang membuncah
Mendominasi akal dan menutup hati nurani
Saat-saat dulu ketika di tengah kegampangan pun hanya terlihat kesusahan
Karena terlalu terbiasa

Ya, saya takut
Saya takut saya hanya melulu melihat diri sendiri
Seperti dahulu
Ketika mata selalu tertutup dan tidak mampu melihat realita dari lain sisi
Karena terlalu terbiasa

Ah saya terperangkap lagi di sini
Di kekacauan akal yang berusaha mendefinisi segala sesuatu
Saya harus berhenti sekarang dan mengaku sajalah:
Saya benci perpisahan.