Ingatkan Saya Untuk Bersyukur
Thu, September 8, 2005 at 01:19PM Sebut saja namanya mbak Ani. Ia seorang baby-sitter baru di rumah orangtua saya (dimana saya tinggal, btw) yang tugasnya ngejagain ponakan saya, Alisha, 4 tahun. Baru dua hari-an lah dia kerja di rumah, jadi saya belum sempat ngobrol-ngobrol banyak dan mengenalnya lebih dalam, kecuali bahwa saya ngeliat dia beda dari baby-sitter2 sebelumnya. Entah kenapa, saya punya kesan bahwa ia lebih sabar, lebih ngemong, lebih komunikatif sama kita2 yang di rumah, dan lebih hebatnya lagi, dia ngomong inggris juga (dalam dua hari saja ponakan saya sudah mahir bilang, "YESSSSSSS!!" sambil mengepalkan tangannya kalau dia lagi senang).
Hari ini adalah hari libur isra' mi'raj dan memang, to-do-list saya untuk hari ini cuma satu kegiatan: bermalas-malasan. Saya pun nonton tv sama alisha dan mbak ani sambil ngobrol2 ringan sama mbak Ani.
"Saya seneng loh mba, kalo megang anak perempuan, soalnya anak saya di rumah laki-laki semua. Enak kalo anak kecil perempuan bisa didandanin ya, mbaK", kata mbak Ani yang lagi nemenin Alisha gambar-gambar dengan spidolnya.
Saya liat Alisha, hari itu pake baju atasan putih berketek dengan motif bunga-bunga pink, dan celana pendek selutut warna pink juga.
"itu mbak Ani ya, yang milihin baju untuk Alisha?"
"enggak sih, dia mau sendiri. Lucu ya mbak, kalo anak perempuan itu sudah suka dandan dari kecil.."
"ya iya lah, emangnya anaknya mbak Ani umur berapa?"
"yang paling tua 15tahun, yang paling kecil udah 6tahun."
"o ya ya? dimana sekarang mereka?"
"di solo, mbak"
hmm.. saya mulai nggak nyaman deh, kalau mulai ngomong2 pribadi begini. Biasanya cerita-cerita pembantu yang bekerja di sini suka bikin saya sedih, yang ditinggal suaminya lah, yang masih 16 tahun tapi nggak punya uang untuk sekolah, dll dsb. Jadi mending saya nggak terlalu terlibat secara emosi daripada kepikiran terus. Tapi penasaran, saya lanjutin juga.
"ooh, di solo? tinggal sama neneknya ya?"
"oh, enggak, tinggal sama bapaknya, suami saya."
Deg! Saya mulai tertarik..
"Sama bapaknya? Suami mbak Ani kerja di Solo juga?"
"iya, kerja di pabrik di Solo. Makanya hari ini dia telfon2 terus tuh mbak, ke hp saya, soalnya kan hari ini hari libur. Kemaren malem saya telfon jam 11 tapi dia sudah tidur, dia angkat sih, tapi suaranya udah kaya orang mimpi gitu loh, mbaK, hihihi"
Saya perhatikan rona wajah mbak Ani berubah begitu menceritakan suami dan anak-anaknya. Begitu bahagia. Dan kangen kali yaa... Yang pasti saya merasakan ada cinta di situ...
Saya jadi malu. Bener-bener malu. Cerita dia telfon2an sama suaminya yang berbeda kota mengingatkan akan cerita saya sendiri yang tiap hari bertelfonan sama suami karena kangen. Tapi mba Ani menceritakannya begitu ringan seperti memang sudah semestinya begitu. Saya bayangkan mungkin ia harus bekerja meninggalkan anak-anaknya dan suaminya ke Jakarta demi menghidupi keluarganya. Tuntutan hidup yang tinggi di jaman sekarang mungkin nggak cukup lagi kalau mengandalkan hanya dari satu penghasilan saja... Saya bayangkan lagi, mungkin sudah bertahun-tahun dia hidup begini, hanya punya waktu cuti beberapa hari setahun (mungkin kalau lebaran doang?) untuk pulang ke Solo dan melihat anak-anaknya tumbuh, padahal anaknya masih kecil (6thn). Apalagi bekerja sebagai baby sitter yang setiap harinya berhubungan sama anak kecil yang notabene adalah anak orang lain, bukan nggak mungkin kalau itu mengingatkan dia kepada anaknya sendiri . Pastinya nggak mudah dan hanya orang-orang yang berjiwa besar aja yang mampu begitu.. Tiba-tiba saya jadi sedih dan berpikir... Kalau dibandingkan dengan keadaan saya, alhamdulillah saya diuntungkan dengan situasi. Alhamdulillah saya masih bisa bertemu suami setiap 6 minggu, dan alhamdulillah perjuangan kami untuk hidup satu kota tinggal tunggu waktu aja dan hanya sekedar masalah permit dan paperwork lainnya... Alhamdulillahhhh.......
Memang bukan sekedar dogma kalau Tuhan Maha Penolong dan Maha Pemberi Petunjuk. Seperti kebetulan, baru saja pagi ini saya ngamuk berat karena mulai putus asa dengan perjuangan kisah cinta saya dan suami. Saya merasa, ini seperti penantian tanpa ujung. Tiba-tiba, siangnya, hanya dengan ngobrol sama mbak Ani, mata dan hati saya terbuka lebar. Melihat dia yang sabar dan masih tersenyum dengan kisah yang mirip-mirip dengan saya tapi (mungkin) "lebih" kadarnya. Tiba-tiba saya merasa ada teman senasib dan sepenanggungan. Tapi kok, saya liat mba Ani lebih sabar daripada saya. Pasrah dan sabar. Mungkin itulah test-nya. Marthijn, suami saya, hari ini juga bilang begitu waktu menanggapi saya ngamuk-ngamuk, "the only challenge is just to be patient, sayang.... and i know you can do it..."
Begitu fokusnya saya selama ini sama sisi susahnya, sampai-sampai saya lupa untuk bersyukur dan bersabar. Saya lupa bersyukur atas kebahagiaan saya dipertemukan sama Marthijn, lupa bersyukur punya suami yang sabar dan setia nelfonin saya dari belanda bisa sehari tiga kali dan sms bisa sehari 14 kali just to talk about whatever and to say how much he loves me, lupa bersyukur dimudahkan jalannya untuk ketemuan sama marthijn setiap 6 minggu sekali, lupa bersyukur dengan pekerjaan yang asyik dan menyita perhatian saya, lupa bersyukur dengan keluarga yang mendoakan kebahagiaan saya setiap hari, lupa bersyukur dikelilingi sahabat-sahabat yang selalu mendukung saya, lupa bersyukur dikasih kehidupan yang tidak kekurangan, lupa bersyukur dikasih badan yang sehat, lupa bersyukur kalo hampir selalu always dipertemukan dengan kejadian2 yang membuka mata dan hati saya selagi saya membutuhkannya, lupa bersyukur dikasih kehidupan itu sendiri yang penuh dengan cinta.... Hihihi, saya jadi kemalu-an, nih.. *blush*
Teman-teman yang baik, kalau psychotic behaviour saya lagi kumat, marah-marah, sedih-sedih, cranky-cranky menyebalkan dan lain-lain dan sebagainya, tolong bantu saya yaaaaa, pliiiis, tolong ya ingatkan saya untuk bersyukur....... :)
Kiss!



Reader Comments (3)
...sorry baru banghuun :D *yawn* :D