« A Love Bouqet from the North Sea | Main | Dear Sweet Little Girl.... There Comes a Time »
Saturday
Sep102005

Smile is the Best Make-Up

308422-166285-thumbnail.jpgPapan bertulisan slogan ini saya temui dimana-mana waktu saya jalan-jalan di tokyo. Slogan yang kalau menurut saya simpel tapi dalem. Sebagai seorang yang hobby ber-make-up dan sangat percaya the power of make-up, saya setuju sekali bahwa nggak ada foundation ataupun concealer yang bisa menyembunyikan muka yang stress dan murung. Coba anda perhatikan, banyak kaan, cewe-cewe cantik dari jauh dari deket mukanya amblas, karena make-up nya 2inchi. Jadi make-up is no solution. But smiling is! Pernah anda liat juga kan, orang yang biasa-biasa aja dari jauh, tapi begitu kita bicara sama dia, keliatan kecantikan nya yang nggak membosankan. Pasti orang ini banyak senyum! Kalo liat orang cantik tapi jutek, perlu dicurigai, karena biasanya jutek itu adalah tameng untuk menutupi ke-insecure-an dia. Orang yang banyak senyumlah orang-orang yang punya self-esteem tinggi dan secure. Berani bertaruh!

Kita sebagai orang indonesia musti merasa bersyukur karena kita di-raise dari kecil untuk selalu tersenyum sama orang lain. Saya bahkan dari kecil didoktrin bahwa senyum itu sebagian dari iman. heheh huhuh hihihih.... Saking mendarah daging nya kebiasaan tersenyum di saya, waktu siraman saya sampe dimarahin sama tante-tante dan bude-bude saya karena katanya penganten kok cengengesan. Lhoh, kan namanya orang lagi seneng, tante?? akhirnya pas akad saya bersusah payah untuk nggak tersenyum supaya ada wibawa, semata-mata untuk menyenangkan audience yang sebagian besar adalah keluarga saya yang udah suasah payah peras keringat membantu dlm persiapan pernikahan. Pas diliat di foto tetep aja keliatan kaya senyum ditahan kentut dikulum. Lagi resepsi juga sukar sekali buat saya untuk beraksi anggun dan berbasa-basi seperti ratu sehari, "yaa, terima kasih... terima kasih... terima kasih... terima kasih... terima kasih... terima kasih....". Yang saya lakukan secara nggak sengaja, apalagi kalau disalamin sama temen lama justru loncat kegirangan di pelaminan sambil tertawa excited dan ngobrol lama-lama, sampai akhirnya lagi diingatkan, "heh, penganten, jaim dikit napa seehh??" Lagi-lagi saya jadi merasa harus senyum ditahan kentut dikulum. Tapi nggak bisa. Masa orang nggak boleh ekspresif, apalagi di hari pernikahannya sendiri. Aneh.

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Orang jepang terkenal dengan sopan santunnya sampai tradisi bowing nya yang terbawa di kehidupan modern. Orang amerika terkenal dengan keterbukaan dan ke-friendly-an nya. Begitu juga orang belanda, open dan straightforward. Tapi untuk urusan cengangas cengenges, orang Indonesia tetap juara! Coba aja kalau lagi jalan-jalan di luar negeri, denger orang ngomong  Indonesia, spontan kita langsung bilang, "dari Indonesia ya, mbaK?" Langsung deh saat itu juga kita jadi teman akrab apalagi kalo sama-sama perantauan kan. Tuuh, kan, satu lagi keuntungan yang didapat dari kebiasaan tersenyum.

Secara teori, dengan kita tersenyum berarti kita mengaktifkan otak untuk memberi perintah pada kelenjar2 melepaskan hormon-hormon penenang, seperti misalnya hormon endorphin. Makanya waktu saya belajar meditasi reiki, hal yang pertama diajarkan adalah untuk belajar pasrah dan tidak membiarkan otak mendominasi terlalu banyak. Caranya? Ya dengan tersenyum! Slogan mereka: Senyum Santai Pasrah. Dan memang benar, begitu saya praktekan, saya coba berpasrah dan tidak berpikir. Wah, susahnya bukan main, ternyata pikiran kita begitu dominan. Oo, rupanya waktu itu saya saking seriusnya berusaha tidak berpikir apa-apa untuk meditasi, saya sampai lupa untuk tersenyum. Tapi begitu saya tersenyum lebar, voila, tiba-tiba saya berada di alam lain yang penuh ketenangan. Tiba-tiba saya merasakan nikmat tiada tara dalam hening saya itu. Alhamdulillah, inilah berkah Tuhan.

Sekarang jangan kaget kalo ketemu saya di tengah jalan saya berusaha senyum-senyum sendiri. Ya maksudnya, supaya tenang itu. Saya kan penderita insomnia, saya seorang certified psikopat, kalau kata temen saya, si Cor. Soalnya saya memang resmi pasien psikiater. Kata psikiater sih saya menderita anxiety disorder yang cukup parah. Sebabnya apa, dia nggak tau. Tapi saya tau. Antara lain, usaha saya yang masih belum berakhir untuk hidup satu kota dengan suami saya tercinta. Lalu juga kekesalan saya dengan fenomena yang saya amati akhir-akhir ini yang menimpa orang-orang terdekat saya yang menyangkut pria-pria separuh baya nan gatel. Ada juga pekerjaan yang semakin hari semakin demanding. Ditambah lagi memang sudah karakter saya yang suka rada keras dengan diri sendiri (dan orang lain). Jadi saya berusaha mengingatkan diri sendiri untuk selalu tersenyum. Dan alhamdulillah, insomnia saya agak membaik, walaupun sekarang masih dibantu dengan akupuntur supaya relaks. Begitu mulai tegang, saya coba-coba ingat untuk tersenyum dan afirmasi pada diri sendiri, "I HAVE NO PROBLEM".

Senyum membantu saya untuk lebih pasrah menghadapi kejadian-kejadian di sekitar saya. Tapi nggak selamanya senyum membawa berkah. Dulu, waktu lagi MABIM (masa bimbingan) di awal-awal kuliah -ini sama dengan Ospek- ada kawan saya yang baik hati dan ramah, mukanya senyum terus. Memang orangnya suka tersenyum, tapi kayanya memang struktur wajahnya sendiri sudah didesign dari sononya begitu. Full senyum. 24/7. Alhasil pada masa Ospek, senyumnya dikira penghinaan oleh beberapa senior.
"heh, apa kamu, baris yang bener. Jangan senyum-senyum!!!"
"iya kak"
"hah, masih senyum juga?!!"
"enggak, kak"
"Lhoh, itu apa kamu ngetawain saya ya? Kamu kira ini main-main??"
"enggak, kak"
"Enggak apa?? Kenapa senyum-senyum terus? Ini acara serius!! Sini, kamu push-up 50 kali!!"
"Tapi kak, tadi saya juga baru disuruh push-up....."
"Rasain kamu. Belum kapok-kapok juga berarti! Sini kamu... Pus-AAaaaaaapppppp!!!!!"
"i..i..iya kak"
TU.. WA.. GA.. PAT...
"itung yang keraaaaaaaaaassssss!!!"
"i.. i.. i... i..ya kak... TU... WA... GA.. PAT..."

PrintView Printer Friendly Version

Reader Comments

There are no comments for this journal entry. To create a new comment, use the form below.

PostPost a New Comment

Enter your information below to add a new comment.

My response is on my own website »
Author Email (optional):
Author URL (optional):
Post:
 
All HTML will be escaped. Hyperlinks will be created for URLs automatically.